Tuesday, May 23, 2017

Bukit Palawan

Kali ini aku traveling bersama teman-teman akhwat seliqo. Ramai, karena banyak anggota yang bisa ikut. Tujuan kami adalah ke Bukit Palawan, salah satu destinasi wisata di Kab. HSS yang sedang ngetrend saat ini. Bukit ini terletak di Desa Mawangi, persis di sebelah Desa Batu Bini yang seminggu sebelumnya kudaki.

Pos keberangkatan ke Bukit Palawan tepat di SDN Mawangi. Entah bagaimana kalau sedang tidak hari libur seperti sekarang. Dibandingkan dengan Bukit Batu Bini, jalur menuju puncak Palawan lebih jauh, tapi lebih landai. Ada beberapa warung yang berderet di sepanjang jalan menuju bukit. Di tengah-tengah perjalanan kami beristirahat karena ada teman yang lemah lunglai setelah mendaki sekian anak tangga. Sekitar 15 menit kami kemudian akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi.

Ada 2 jalan menuju puncak. Kami mengambil jalur yang lebih landai, mengingat kondisi anggota ada yang kurang fit. Ternyata puncaknya tidak terlalu jauh. Aku bahkan belum merasa capek.

Aku sempat terheran-heran ketika baru tiba di puncak. Suasananya ramai sekali seperti pasar. Warung tenda pun jumlahnya tak terhitung saking banyaknya. Meski udara cukup panas waktu itu, di puncak Palawan tidak terlalu terasa karena terdapat deretan pohon karet.

Dibandingkan dengan Bukit Batu Bini, Bukit Palawan jauh lebih luas dan lebih banyak spot cantik untuk berfoto. Katanya sih, ini adalah bukit pertama yang ngehits di kawasan Kandangan sebelum bukit-bukit yang lain menyusul untuk mempercantik diri.

Spot-spot foto terletak di tepi tebing. Ada banyak bentuk seperti kursi kafe, heli tentara, frame instagram, jembatan love, rumah tarzan, becak, sayap kupu-kupu, sarang burung, dan perahu. Kreatif sekali para pembuatnya. Kata nenek penjaga warung sih, puncak ini ramai semenjak 3 bulan terakhir ini. Lumayan menambah pendapatan warga sekitar juga, terutama dari tarif parkir, biaya masuk, dan warung-warung yang ada di sana.

Setelah sekitar 2 jam menghabiskan waktu di atas. Aku dan teman-teman berencana pulang, tapi dicegat oleh seorang nenek yang mempromosikan sebuah sumur air tawar yang katanya bertuah. Kami sebenarnya tidak percaya dengan cerita beliau tapi untuk menghargai, kami pun mengikuti beliau ke sumur tersebut untuk berwudhu dan mencuci muka. Beberapa teman juga ada yang mengisi botol minum dengan air tersebut. Jernih sekali memang, berasal dari pancuran alami di dalam gua kata si nenek.

Pulangnya, kami lewat jalur ke-3 yang ternyata jauh lebih landai karena memutar bukit meski jaraknya jadi lebih jauh. Saat tiba di bawah, kami disambut gerimis. Beruntungnya kami tidak sampai kehujanan di puncak sana. Alhamdulillah, satu lagi destinasi wisata yang berhasil kujelajahi hari itu.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates