Tuesday, November 29, 2016

Scream for Me


Judul: Scream for Me (Jeritan Masa Lalu)
Penulis: Karen Rose
Penerbit: Dastan Books
Tahun terbit: 2011

Baru-baru ini aku mengunjungi perpustakaan kota kecilku yang koleksi bukunya sedikit sekali jika dibandingkan dengan perpustakaan lain yang pernah kudatangi. Meski begitu, kemarin dari hasil huntingku aku menemukan sebuah novel terjemahan berjudul Scream for Me (Jeritan Masa Lalu). Berbekal nama penulis yang bergelar The #1 Romantic Suspense Writer membuatku tertarik untuk membaca buku ini. Sudah lama aku tidak membaca novel yang suspense. Meski bacaan terakhirku kemarin juga agak sedikit dark.

Novel ini menceritakan seorang gadis bernama Alex Fallon yang trauma dengan masa lalunya karena saudara kembarnya dibunuh dan ibunya bunuh diri. Ia harus kembali ke kota penuh kenangan buruk tersebut karena ia mendapat telepon bahwa saudara tirinya hilang dan meninggalkan seorang anak berusia 4 tahun.

Di sisi lain, ada Daniel Vartanian dengan cerita keluarga yang sangat kelam. Ia berhasil membuktikan kepada dunia bahwa meski jejak rekam keluarganya buruk, ia tidak lantas menjadi buruk juga. Ia menjadi kepala investigasi pembunuhan berantai yang ternyata berkaitan dengan hilangnya saudara tiri Alex dan pembunahan saudara kembar Alex 13 tahun silam.

Alex dan Daniel menghadapi masalah pembunuhan ini bersama-sama. Di sela-sela aura suspense yang menyelimuti novel ini, sisi romantis terselip dengan cantik. Baper deh sama cerita cinta Alex dan Daniel. Aku suka sikap protektif Daniel kepada Alex. Dan oh satu lagi, aku suka nama Vartanian.

Novel 560 halaman ini sangat asyik diikuti. Aku merasa terhibur sekaligus ngeri di saat bersamaan. Ceritanya mengalir dengan POV orang ketiga, meski aku sedikit bingung karena banyaknya tokoh yang terlibat. Oya, aku juga sedikit missunderstand mengenai setting tempat novel ini karena ada banyak nama kota yang menjadi setting novel ini. Kota-kota tersebut antara lain Arcadia, Atlanta, Philadelphia, Cincinatti, dan Volusia.

Plot maju dengan waktu kejadian kurang dari seminggu merupakan kelebihan lain dari novel ini. Penulis dengan cerdas menuliskan tempat, tanggal dan jam pada setiap scene. Aku jadi teringat dengan novel Negeri para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye yang punya konsep serupa.

Karakterisasi pada tokoh sangat pas, terutama pada kedua tokoh utama. Dan penulis dengan piawai membuatku benar-benar merasa jijik dan benci kepada semua penjahat yang terlibat. Oya, aku sempat tidak mengenali Toby Granville. Ternyata ia adalah dokter Kota Dutton. Ia bahkan sudah muncul saat kasus pembunuhan pertama pada halaman 136, sungguh tidak terduga.

Cara penyampaian, gaya penulisan, dan tata bahasa novel ini cukup memikat, khas novel terjemahan. Humor ringan dalam percakapan tokoh juga bagus sekali. Aku suka. Temanya yang berat dapat mudah tertutupi dengan teknik bercerita penulis yang mantap.

Latar belakang penulis yang seorang guru kimia dan fisika SMA membuat novel ini semakin berisi. Beberapa pengetahuan eksak dengan mudah dijabarkan penulis sebagai bagian dari cerita. Meski tentu saja riset sesuai tema adalah hal mutlak yang dilakukam penulis untuk memperkaya isi novelnya. Di bagian biodata penulis tertulis banyak penghargaan yang telah diraih oleh Karen Rose. Tidak salah jika hasil tulisannya sebegini memukau. Ternyata beliau sudah banyak menulis novel suspennse. Nantilah aku hunting lagi, semoga bisa menemukan novel suspense dari penulis yang sama.

Makna tersirat dari novel ini yang kutangkap adalah bahwa kesalahan seseorang akan mmberikan efek buruk bahkan kepada orang-orang di sekitarnya. Hal ini sesuai dengan tema utama novel ini yaitu tentang usaha balas dendam atas perbuatan buruk di masa lalu dan cerita tentang korban-korban tak bersalah yang ikut terseret dalam kasus tersebut.

Quote yang paling kusuka dari novel ini ada di halaman 371 ketika Alex dihipnosis. Daniel berkata, "ingatan manusia adalah sebuah hal yang rapuh, begitu mudah dimanipulasi."

Kekurangan novel ini menurutku ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab hingga di akhir cerita, yaitu:
1. Siapa ayah kandung Hope?
2. Siapa seseorang yang mengendalikan kejahatan besar seperti yang dimaksu oleh Harvard?
3. Siapa yang mengambil kotak penyimpanan Simon di bank?

Sunday, November 27, 2016

Dan Hujan Pun Berhenti ...


Judul: Dan Hujan Pun Berhenti...
Penulis: Farida Susanty
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: 2007

Aku baru aja selesai membaca novel ini. Sebenernya reread sih karena udah pernah baca sekali waktu baru beli, pertengahan 2013. Waktu baca sekali itu aku nggak ngereview novel ini jadi sama sekali buta tentang inti ceritanya ketika melihat novel ini terselip di antara koleksi bukuku yang lain. Yang kuingat hanya novel ini bercerita tentang kehidupan seorang anak yang broken home. Namun, alur hingga endingnya aku tak ingat persis bagaiamana. Itulah yang membuatku ingin membaca ulang novel ini.

Sejak awal aku sudah sadar bahwa novel ini dark banget. Kelam. Tokoh utama bernama Leo, seorang remaja kelas 2 atau 3 SMA. Mengingat penulisnya cewek, menjadi "seorang Leo" pasti membutuhkan usaha yang sangat keras. Itu ternyata disampaikan penulis pada ucapan terima kasihnya. Draft novel ini pernah ia sebarkan di kelasnya untuk dibaca oleh teman-temannya. Seorang teman lak-laki menyelutuk, "wah kok pikiran Leo cewek banget sih?" Sejak saat itu Farida Susanty merombak tokoh Leo menjadi "benar-benar seorang laki-laki." Menurutku sih dia berhasil karena reaksi Leo setiap dia menghadapi masalah persis dengan apa yang mungkin remaja laki-laki lakukan di kehidupan nyata.

Saking darknya novel ini, segala macam kenakalan remaja resmi berkumpul di sini. Pasti butuh riset yang mendalam bagi penulisnya. Begitu pula dengan penggunaan bahasa yang jauh dari sopan santun. Untuk menekankan emosinya, penulis menggunakan banyak capslock di hampir semua percakapan tokoh. Ini sedikit mengganggu mata sebenarnya. Meski masih bisa dimaklumi mengingat tujuan penulis agar suasana pertengkaran yang penuh teriakan atau debat panas bisa tersampaikan dengan jelas.

Di halaman 51 ada hal yang menggelitik karena ada catatan kaki nomor 10 yang berbunyi "if you know what I mean" yang merujuk kepada narasi penulis tentang pertemuan Cinta dan Rangga di film AADC karena ada unsur buku "Aku", mading sekolah, wawancara, dan lomba puisi. Itu penulis singgung saat Leo berusaha mencari Spiza di perpustakaan ketika mengetahui bahwa cewek itu ternyata nerd.

Adegan pasca perkelahian Leo-Tyo-Luthfi sungguh mengharukan di hal 115. Ketika kesadaran menerjang pikiran Luthfi bahwa ia sedang iri pada orang yang salah. Ia iri pada orang yang penuh luka. Bukankah sakit menjadi Leo? Tapi Leo adalah seorang teman yang baik meski ia sendiri memandang dirinya sendiri tidak tulus berteman. Lihatlah pendapat Tyo, sang musuh bebuyutan di halaman 128, Leo adalah orang yang tulus bahkan di mata orang yg memusuhinya sekalipun.

Adegan Eeny Meeny Miny Moe ini menurutku sukses penulis bawakan. Hanya saja logika cerita di novel ini kadang membingungkan. Dimana guru saat perkelahian berdarah itu? Toh waktu itu masih jam sekolah dan lokasinya pun di dalam sekolah.

Penulis sepertinya sangat suka menonton film. Terbukti dengan banyaknya ungkapan dari film-film yang sepertinya sudah khatam dilahap penulis. Film yang mungkin paling mempengaruhi isi novel ini adalah film Elephant yang bercerita tentang seorang anak yang membunuh semua orang di dekatnya.  Cocok sekali film tersebut menjadi latar belakang novel ini sehingga melahirkan kehidupan Leo yang gelap.

Membaca novel ini seperti mengikuti gejolak hati para remaja yang kehilangan jati diri. Kilasan masa lampau, rasa sakit yang diakibatkan oleh keluarga broken home, serta teriakan dan makian kasar. Aku sudah sakit jiwa kalau menjadi Leo, tekanan hidupnya banyak dan komplit sekali. Gaya berpikir Leo pun tak jauh beda dengan mereka yang membutuhkan psikiater.

Aku dibuat nangis bombay ketika membaca surat ibu Leo kepadanya. Sedih banget. Seorang ibu betapa pun brengseknya, ia tetaplah malaikat bagi  anak-anaknya. Sedih banget, asli. Hal lain yang membuat mataku berkaca-kaca adalah konflik persahabatan antara Adi dan Leo. Kepercayaan terhadap sahabat pada masa remaja adalah hal yang agung dan mahal.

Tuhan itu skenarionya aneh, begitu kata Leo di hal 297 ketika ia bertemu dengan Stella penabrak Iris-nya. Lihatlah siapa yang disodorkan Tuhan untuk ia maafkan pertama kali untuk memperbaiki hidupnya, Stella. Orang yang mungkin akan Leo bunuh saat itu juga jika ia tidak menggenggam kesadaran.

Epilognya bikin aku bingung dan gila. Logika susah dipakai ketika membaca novel psikolog seperti ini. Namun, mengingat konflik penuh darah dan api yang dikemas dengan baik oleh remaja kelas 3 SMA tak salah sepertinya novel ini menyandang gelar Pemenang Khatulistiwa Literary Award 2007 kategori penulis muda berbakat.

Scrofula?

Baca cerita sebelumnya di Pengobatan Benjolan di Leher

Rabu, 16 Nopember 2016 aku kembali mengunjungi Dokter Priha. Kali ini berangkat dari kantor jam 10 setelah mengerjakan beberapa pekerjaan di lab. Aku menuju ke loket BPJS untuk mengambil nomor antrian. Eh, ternyata tak perlu antri lagi karena semua sudah dilayani. Jadi surat rujukanku langsung diproses. Antri di loket pendaftaran sudah nomor 100 sekian, tapi yang antri hanya tinggal 2-3 orang jadi tidak menunggu terlalu lama. Lalu aku menuju ke poli bedah dengan nomor antrian 26 dan mendapati sudah banyak pasien yang menunggu dan belum ada yang dipanggil satu pun. Dokternya ada operasi begitu kata orang-orang.

Sekitar jam 12 siang, baru pasien pertama yang dipanggil. Alamat bakal lama nih, desisku dalam hati. Namun, mengingat kondisi dokter yang juga pasti masih capek sehabis melakukan operasi dan langsung disuguhi pasien rawat jalan sepertiku, aku tak jadi hendak kesal. Menunggu dengan sabar. Hanya saja grasak-grusuk ibu-ibu di sampingku membuatku sedikit tidak nyaman. Aku malas bicara dan hanya membaca novel via wattpad. Akhirnya namaku dipanggil sekitar jam 2 siang. Seperti biasa, kalau berobat ke rumah sakit rasanya tak afdal kalau tidak menunggu minimal 4 jam untuk mendapatkan pelayanan dokter.

Konsultasi dimulai. Dokter memegang benjolanku, kata beliau tidak banyak berkurang. Apakah masih belum yakin untuk dibedah, aku mengangguk. Aku sudah bicara dengan suami tapi ia menyarankan kalau bisa tidak perlu dibedah.  Jadi aku tidak mengiyakan tawaran bedah ini. Dokter Priha menduga dari gejala yang terlihat, penyakitku adalah infeksi TB kelenjar. Paru-paruku memang sehat, tapi letak benjolan di sebelah kanan leher dan imunnya ia dari antibiotik biasa menguatkan hipotesis kalau ini memang infeksi dari kuman TB.

Apa yang terjadi seandainya tidak dibedah dan diobati tanyaku, dokter menjawab bakteri tersebut akan menggerogoti tubuhku dan membuatku tidak mendapatkan cukup nutrisi. Pantas saja tubuhku kurus, pikirku. Berat badanku tak pernah lebih dari 41 kg. Lagipula sejak kuliah dulu aku memang mudah lelah. Meski aku tidak tahu kapan persisnya aku mulai terinfeksi bakteri TB ini.

Tak ingin ada yang mengganjal aku bertanya lagi, apa efek samping atau risiko yang mungkin terjadi pasca pembedahan. Dokter menjawab, rasa nyeri di bekas jahitan dan mual akibat obat bius. Meski sebelumnya aku sudah pernah mencari tahu, efek samping lainnya yang cukup berbahaya setelah pembedahan adalah menyebarnya bakteri ke jaringan lain di dalam tubuh. Entah informasi tersebut akurat atau tidak.

Jadi hari itu aku dikasih obat yang sama dengan sebelumnya. Hanya dosis satu obat diturunkan menjadi satu kali sehari. Sepulang dari rumah sakit aku searching mengenai infeksi TB kelenjar, ternyata beberapa orang pernah mengalami dan berbagi di blog mereka. Nama lain penyakit ini adalah scrofula. Untuk mengidentifikasi bakterinya memang harus dibedah atau biopsi dan minum obat selama 6 bulan penuh. Sebagian besar dari mereka berhasil sembuh. Oya, aku menemukan satu artikel tentang biopsi aspirasi jarum halus yaitu teknik pengambilan sampel massa (benjolan) dengan cara disedot menggunakan jarum kecil semacam suntikan. Jadi benjolan tidak perlu dibedah, semoga di rumah sakit kotaku ada metode seperti, doaku. Aku berniat untuk menanyakannya ketika jadwal konsul selanjutnya.

Hari Rabu berikutnya tanggal 23 Nopember, seharusnya aku ke RS lagi untuk konsul. Tapi kerjaan di lab lagi banyak-banyaknya dan kotaku sedang banjir. Akses menuju RS digenangi air cukup dalam. Hal itu kuketahui ketika pulang pada hari Selasa sebelumnya. Sedangkan pada hari Rabu itu aku menuju kantor dari rumah lewat jalan alternatif yang juga ternyata banjir namun tidak separah jalan utama.


Kamis 24 Nopember, aku mendatangi rumah sakit lagi. Dapat antrian 98 di loket BPJS. Waktu itu memang sudah sekitar jam 10.30. Sekitar setengah jam menunggu, aku dipanggil. Beruntung tidak ada masalah dengan surat rujukan BPJSku karena tanggal yang tertera di sana adalah 23 Nopember. Aku ke loket, langsung tanpa antri. Lalu menuju poli bedah dengan nomor antrian 20. Kulihat bapak yang duduk di sebelahku memegang kertas antrian nomor 11 juga belum dipanggil.
Ketika masuk pertama kali yang kurasakan adalah keterkejutan karena mendapati dokter yang kudatangi kali ini adalah laki-laki. Sebelumnya aku memang sudah membaca jadwal dokter yang berganti antara Senin-Rabu dan Kamis-Sabtu, tapi mana aku tahu kalau dr. Nanda ternyata laki-laki. Oh, nama memang tidak bergender ya.

Alhamdulillah, ternyata dr. Nanda juga sama ramahnya dengan dr. Priha. Sama-sama tidak pelit informasi juga, aku pun bisa banyak bertanya. Inti dari konsultasi dengan dr. Nanda, dia menyarankan aku untuk segera operasi agar jenis penyakitku dapat diketahui dengan tepat dan cepat. Seperti yang kubaca di internet, metode wait and see bukan cara yang tepat untuk menindaklanjuti gejala kanker seperti benjolan di leher ini.

Aku pun bertanya bagaimana prosedur dan proses operasi. Ternyata harus nginap setidaknya semalam meskipun secara teknis kalau operasi mengambil benjolam seperti punyaku tidak akan memakan waktu lama dan bias selesai tanpa menginap. Namun, untuk pasien anggota BPJS sepertiku disarankan menginap. Karena kalau tidak menginap, fee yang didapat pihak rumah sakit sangat kecil jauh di bawah harga pisau bedah, canda si dokter.

Dr. Nanda pun menjelaskan tanpa kutanya tentang biopsi aspirasi jarum halus. Aku langsung bersemangat dan bertanya apakah di sini bisa melakukan biopsi tersebut. Ternyata belum bisa, jadi kalau mau aku harus ke rumah sakit di ibukota kab tetangga. Atau ke klinik dr. Barliana ahli patologi yang juga berpraktik di kota yang sama. Aku mendengarkan sambil berpikir. Dr. Nanda pun bertanya apa yang ingin kupilih.

Akhirnya aku berkata bikinkan saja surat rujukan ke Dokter Barliana karena mengingat kalau ke rumah sakit kota sebelah harus di hari dan jam kerja meski biaya ditanggung BPJS. Sedangkan kalau melakukan biopsi di klinik menggunakan biaya sendiri, tapi waktunya lebih fleksibel yaitu sore hari hingga malam. Setelah diberi surat rujukan dan nomor HP dr. Barliana aku sms beliau untuk mengetahui hari dan jam buka kliniknya. Dibalas beliau Senin-Jumat jam 5-8 malam. Setelah itu kutanyakan lagi informasi biaya untuk biopsi aspirasi jarum halus. Sayangnya sms tersebut pending hingga keesokan harinya.

Oya, saat konsultasi dengan dr. Nanda aku bertanya apakah penyakitku ini adalah scrofula. Ia tak dapat memastikan, tapi yang ia tahu scrofula bukanlah TB Kelenjar tapi TB Kulit. Entahlah mana yang benar. Semoga dengan biopsi nanti kejelasan jenis infeksinya langsung ketahuan dan dapat diobati dengan tepat.

Sore hari besoknya, berbekal alamat yang diberikan oleh dr. Nanda dan informasi jam buka klinik. Aku bersama suami ke sana. Kliniknya bisa ditemui dengan mudah karena berada di pinggir jalan raya, klinik Ahla Assyifa. Dari resepsionis klinik, aku mendapat informasi bahwa dr. Barliana baru saja pergi ke luar kota dan hari Senin baru praktik lagi. Aih pantas saja smsku pending. Kemudian  kutanyakan tentang biopsi aspirasi jarum halus dan biayanya. Sekitar 365 ribu katanya. Syukurlah, seruku dalam hati. Karena dari yang kudapat di internet biaya biopsi aspirasi jarum halus ada yang sampai 1 juta.


Setelah bertukar nomor hp dengan resepsionisnya, kami pun pamit. Aku akan ke sana lagi jika si resepsionis menghubungi. Doakan ya proses biopsinya nanti lancar. Aamiin.

Thursday, November 17, 2016

Polycelis felina

Klasifikasi:
Kingdom         : Animalia
Filum              : Platyhelminthes
Kelas               : Turbellaria
Ordo                : Tricladida
Famili             : Planariidae
Genus              :Polycelis
Spesies            :Polycelis felina
Polycelis felina merupakan salah satu spesies dari filum Platyhelminthes (Cacing pipih). Spesies ini memiliki sepasang tentakel dan sepasang oseli -yaitu bintik mata yang mengandung pigmen peka terhadap cahaya- di kepalanya. Siklus hidupnya langsung tumbuh dewasa tanpa fase larva. Bergerak dengan menggunakan bulu getar (silia) yang terdapat di seluruh permukaan tubuhnya. Polycelis felina tidak memiliki organ pengisap sejati dan mulutnya (kalau ada) terletak di permukaan ventral. Termasuk ke dalam ordo Tricladida karena saluran pencernaannya bercabang tiga.

Habitat:
Spesies ini memiliki distribusi yang luas, tetapi jumlah terbesar berada di laut dan sungai di Afrika Utara dan Eropa. Polycelis felina merupakan spesies yang menyukai air dingin (Stenothermal) sehingga ia bisa hidup dengan optimal pada suhu-suhu yang rendah. Polycelis felina juga bisa ditemukan pada tanah-tanah yang becek dan lembab.

Potensi:
Polycelis felina berpotensi menimbulkan penyakit pada hewan dan manusia.

Sumber Pustaka:
Continenticola.2010.Polycelis felina (Dalyell, 1814).
www.continenticola.lifedesks.org
Diakses pada 10 Oktober 2011

Europea.2005.Polycelis felina.

Diakses pada 10 Oktober 2011

Monday, November 14, 2016

Blogger versus Bloger

Suatu ketika di sebuah grup WA bloger yang saya ikuti membahas tentang kata baku dari pelaku blogging. Dalam pembahasan tersebut disoroti penggunaan dua kata yang mengacu pada definisi tersebut, yaitu ‘bloger’ dan ‘blogger. Di KBBI IV Daring terbaru telah hadir ‘bloger’ sebagai kata baku dari ‘blogger’ yang sering digunakan dalam postingan atau bahkan nama komunitas bloger.


Waktu itu saya pikir masa bodohlah, saya sudah nyaman menggunakan kata ‘blogger’ ketika menuliskannya. Entah karena eye catching karena menggunakan double G atau hanya kebiasaan alam bawah sadar yang sulit diubah. Saya pikir, saya hanya perlu menggunakan italic karena termasuk kata asing jika hendak mempublikasikannya dalam ranah ilmiah.

Tapi sekarang saya mulai berpikir ulang, sebagai insan blog yang baik mengapa kita tak membiasakannya dari hal yang mungkin terlihat sepele ini. Orang-orang sejenis saya dahulu yang tidak tahu betapa pentingnya KBBI mungkin hanya akan berkata, “Oh, masalah satu huruf G doang”. Padahal kenyataannya tidak sesepele itu. Sejak saat itu saya mulai belajar untuk membiasakan diri untuk menggunakan kata ‘bloger’ meski sulit karena belum terbiasa. Iya, sesulit melupakanmu.

Teringat pembicaraan saya dengan suami yang berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris. Dalam kaidah English untuk kata dasar yang tiga hruf terakhirnya berpola C-V-C (Consonant-Vowel-Consonant) maka huruf konsonan terakhir harus didoublekan ketika mendapat akhiran -er atau –ing.

Hal tersebut kutanyakan pada suami ketika aku bingung dengan kata baku ‘traveler’ atau ‘traveller’. Ternyata yang sesuai kaidah adalah yang pakai double L, Traveller. Begitu juga untuk kata yang menunjukkan aktivitas travel, yang baku menurut kaidah English adalah travelling.

Saat itu aku bingung karena buku serial travelling favoritku, The Naked Traveler, hanya menggunakan satu L pada setiap sampul bukunya sebagai judul. Setelah membaca di blog pribadi penulis, ternyata beliau memang sengaja melakukan hal itu untuk identitas.


Kembali ke kata ‘blogger’ dan ‘bloger’. Karena yang dibicarakan adalah kata baku dalam Bahasa Indonesia, maka tentu saja aturan CVC tadi tidak berlaku. ‘Bloger’ adalah kata serapan dari bahasa asing dan kemudian ‘dibakukan’ dengan perubahan yaitu huruf G-nya dihilangkan satu. Jadi sebaiknya dalam penulisan yang baku kita menggunakan kata ‘bloger’.

 Sebagai warning bagi saya sendiri nih, membiasakan menggunakan kata baku juga merupakan salah satu cara menghargai bahasa kita sendiri. Yang baru saja memperingati sumpah pemuda pasti ingat kan poin ketiga sumpah pemuda apa? Ya, mengaku menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Namun, jika pun ingin menggunakan kata ‘blogger’ di ranah penulisan nonformal biasakan untuk menuliskannya dengan cetak miring agar terlihat bahwa itu adalah istilah asing sama seperti kata-kata dalam Bahasa Inggris lainnya.

Salam bloger!

Wednesday, November 9, 2016

Pengobatan Benjolan di Leher

Aku punya benjolan di leher sebelah kanan. Lamaaaa sekali tidak hilang-hilang, seingatku sudah 2 bulan terakhir ini “mereka” bertengger di leherku. Tidak sakit sih, hanya saja terasa mengganggu dan membuat risau juga. Karena dari informasi yang kubaca di internet, benjolan di leher itu bisa jadi gejala penyakit serius.

Sebelumnya seingatku aku juga pernah punya benjolan-benjolan begitu di leher (biasanya muncul saat aku dalam keadaan capek) tapi langsung hilang atau mengecil ketika diurut. Kali ini karena durasi keberadaannya yang d luar kewajaran makanya aku memberanikan diri untuk memeriksakannya ke dokter faskes tingkat 1 BPJSku.

Di tempat praktik dokter tersebut, benjolanku dicek setelah sebelumnya ditanyai macam-macam terkait kemunculan benjolan tersebut. Tekanan darahku juga diperiksa. Akhirnya beliau ngasih 3 macam obat yaitu scandexon, mefentan, dan sultrimmix-ds. Dosisnya 3x sehari untuk scandexon dan 2x sehari untuk 2 obat yang lainnya. Aku pun searching mengenai ketiga obat tersebut, intinya indikasi ketiganya kombinasi dari antibiotik dan penghilang rasa nyeri. Pesan dokternya jika setelah 5 hari atau obat-obat tersebut sudah habis diminum tapi benjolannya belum hilang maka aku harus kembali lagi ke tempat praktiknya.

Ini obat 'keras'
Hari pertama aku lancar minum obatnya saat pagi dan siang. Waktu malam, uhukk aku keselek obat. Muntah. Mungkin karena ukuran tabletnya yang besar-besar dan aku minumnya 3 jenis obat sekaligus. Suamiku bilang coba minum obatnya satu-satu gitu. Aku malas, karena bikin begah kebanyakan minum air. Setelah tragedi muntah tersebut aku hanya minum obatnya satu kali sehari. Efek yang kurasakan pun tidak ada. Aku menghentikan mengonsumsinya ketika aku merasakan efek samping jantungku berdebar-debar sangat keras. Teringat cerita seorang tetangga kakek yang pernah pingsan gara-gara dosis obat yang terlalu tinggi dan dikasih oleh dokter yang sama.

Seminggu kemudian aku balik lagi ke tempat praktik dokter tersebut dengan sedikit malas. Sang dokter kemudian membuatkanku surat rujukan ke rumah sakit, karena diduga penyakit yang menyerangku lumayan serius jadi perlu penanganan seorang dokter bedah untuk memastikan jenis penyakit nya. Aku bergidik membayangkan leherku bakal kena pisau bedah. Aku ingat waktu itu malam Minggu, jadi kupikir nantilah hari Senin aku akan berkunjung ke RS.

Sampai di rumah, aku mencoba membaca diagnosa yang ditulis dokternya di kertas rujukan. Tak berhasil hingga perlu bantuan dengan dua orang temanku yang dokter muda. Inti rujukan tersebut bahwa penyakitku diduga tumor ringan di leher sebelah kanan. Aku tidak terkejut dengan ini. Yang mengejutkan adalah bahwa obat yang tertulis pada kolom “Telah diberikan obat:” adalah Cefadroxil. Jelas-jelas aku belum pernah meminum obat tersebut. Kok bisa beda ya antara nama obat yang ditulis TELAH DIBERIKAN dengan obat yang BENAR-BENAR DIBERIKAN?

Surat Rujukan

Ampuh, tapi bikin lemes.
Bikin gondok kan jadinya. Jadilah aku aktif menganalisis penyakitku sendiri sambil chatting dengan teman dokterku dan searching juga di Mbah Google. Kuputuskan untuk membeli antibiotik Cefadroxil di toko obat dan kukonsomsi sampai habis. Hasilnya benjolanku berkurang setengahnya. Tapi aku tak berani untuk terus lanjut mengonsumsi obat tersebut. Oya, efek samping minum Cefadroxil adalah perasaan sakit perut mirip diare. Semingguan aku benar-benar dibikin lemas tapi tetap kutahan demi kesembuhan.

Kuberanikan diri untuk konsultasi ke dokter bedah di RS pada hari Senin, tanggal 7 Nopember. Yup, lebih dari seminggu dari tanggal surat rujukan dokter yang bertanggal 29 Oktober. Semoga masih diterima doaku. Setelah ijin ke kantor, sekitar jam 9 kurang 15 menit aku sudah antri di loket BPJS untuk mengurus klaim. Nomor antrianku 39. Wuihh, jauh juga. Sekitar setengah jam menunggu dipanggillah aku. Lancar.

Lalu antri kembali ke loket pendaftaran dengan nomor antrian 94. Hiks, lebih jauh lagi. Tapi ternyata di loket Rawat Inap ada temanku yang sedang bertugas. Aku dipanggilnya sambil bertanya aku sakit apa. Jadilah aku langsung didaftarkan tanpa antri, padahal seharusnya aku kan masuk loket Rawat Jalan. Hehe, rezeki dari teman.

Antri dulu

Setelah itu aku langsung ke poli bedah sesuai rujukan dokter. Kurang lebih 2 jam aku menunggu di antrian poli bedah baru dipanggil. Lama syekaleee. Oleh dokter Priha, aku ditanya riwayat penyakit yang berkaitan dengan benjolan tersebut. Sering batuk ya tanya beliau. Lumayan jawabku karena keluhan penyakitku selama ini memang “hanya sebatas batuk. Ada 3 kemungkinan kata beliau,
  1. Infeksi biasa oleh bakteri, diobati selama satu minggu biasanya hilang
  2. Infeksi TB, diobati selama 6 bulan
  3. Tumor jinak, diobati dengan cara kemoterapi

Hasil USG benjolan di leherku
Perkiraan sementara kemungkinan punyaku ini adalah infeksi TB. Karena aku juga sering batuk dan merasa ada masalah di pernapasan, apalagi kalau udara dingin. Oleh dokter, aku disarankan melakukan USG.

Keluar dari ruangan poli aku ke ruang Radiologi untuk USG. Sekitar satu jam menunggu aku baru dipanggil untuk USG. Hasilnya ada satu benjolan yang paling besar dengan ukuran 1,5 cm dan yang sedang 0,2 cm. Yang paling kecil tidak terbaca karena sebenarnya yang teraba di leherku ada 3 benjolan. Oleh dokter radiologi disarankan untuk melakukan rontgen dada (scan torax) untuk melihat apakah ada infeksi TB. Namun, karena waktu habis untuk hari itu maka dokter menyarankan aku untuk kembali ke sana besok pagi.

Sebenarnya aku nggak enak izin di kantor selama dua hari berturut-turut apalagi dengan durasi waktu yang cukup lama, sampai jam makan siang. Sebenarnya hari Selasa itu aku ada jadwal mengambil sampel ke lapangan tapi beruntung ada teman kantor yang bisa ditukar jadwalnya. Tebak kapan aku harus sampling? Hari sabtu, Sodara-sodara. Itu hari liburrrrr.

Aku berniat datang jauh lebih pagi ke RS pada Hari Selasa supaya bisa antri cepat. Waktu aku sampai bahkan upacara pagi para pegawai RS belum selesai. Aku masuk lewat pintu samping dan dengan segera mengambil nomor antrian di loket BPJS. Nomor 21. Ada yang jauh lebih pagi daripada aku. Wkwk.

Antri lagi

Urusan di BPJS selesai, aku langsung ke loket pendaftaran. Dapat antrian 52. Kali ini aku benar-benar harus antri karena tak ada teman yang sedang bertugas di loket. Sekitar 15 menit menunggu akhirnya tiba juga giliranku. Urusan selesai, aku langsung ke ruang radiologi untuk rontgen. Eh ternyata di sana aku yang paling pagi jadi tak perlu antri. Langsung rontgen dada. Nunggu sebentar, hasilnya keluar. Sama mbak petugasnya aku disuruh menandatangani buku dengan keterangan belum dibaca. Aku nurut-nurut aja lalu dengan santai melangkah ke Poli Bedah.

Sabar menunggu di depan pintu ini

Sama kayak kemarin, kali ini aku juga menunggu sekitar dua jam mungkin lebih baru masuk ruanngan. Sampai di sana aku mendapati bahwa hasil rontgenku belum bisa ditindaklanjuti karena belum dibaca oleh dokter radiologinya. SHIT!!!. Aku kembali ke ruang radiologi dengan hati yang kesal, buat apa ngantri selama dua jam kalau akhirnya harus balik lagi ke ruang radiologi? Di sana pun sudah terlanjur banyak antrian. Aku menunggu 2 jam lagi dan belum selesai-selesai. Dalam hati aku terus menyumpahi petugas rontgen yang dengan tampang innocentnya tidak menyarankan aku menunggu dokter radiologinya sejak pagi. Semoga hidupmu tak pernah susah, Mbak.

Jam 12 lewat, teman di kantor menelpon. Ikut makan ke luar tidak? Kubilang tunggu aku tanya ke petugasnya dulu. Waktu kutanya apakah masih lama, tunggu aja dulu katanya. Hih, dari tadi juga ditunggu decakku sebal dalam hati. Terus mereka menambahkan, tadi sudah ditelpon Poli Bedah juga. Sudah ditunggu hasilnya. Tuh kan, sungutku sebal. Kubilang aku mau keluar sebentar, kira-kira polinya tutup tidak? Sepertinya tidak Mbak, dokternya menunggu hasilnya juga kata mereka.

Lalu pergilah aku makan selama setengah jam. Balik lagi ke sana ternyata loketnya sepi. Petugasnya tidak ada. Menunggu dengan bete selama setengah jam, lalu datanglah si biang kerok dengan wajah yang tidak bersahabat. Ia menyerahkan hasil rontgen beserta hasil analisis dokternya. Polinya masih buka, tanyaku. Dicoba aja dulu, katanya ketus sampai bikin aku nulis status kayak gini.

Saat menulis, rasanya aku ingin mengutuk orang tersebut


Dengan kesal aku menuju poli bedah. Kuketok tiga kali, tak ada jawaban. Aku pun pulang dengan hati yang panas.

Hari Rabu dengan membulatkan hati agar tak terpengaruh kejadian kemarin, aku kembali lagi ke RS. Tapi kali ini tidak sepagi dua hari sebelumnya. Aku mengerjakan pekerjaan di lab dulu. Jam 10 lewat aku baru meluncur ke RS. Langsung menuju poli bedah dan mengetuk pintu saat orang-orang antri. Aku menyerahkan hasil rontgen, lalu dengan cueknya menungggu di kursi tamu. Sekitar setengah jam aku baru dipanggil.

Dokter bilang hasil pembacaannya mengatakan bahwa tidak ada gejala infeksi TB. Jadi hanya ada dua kemungkinan, yaitu infeksi bakteri atau tumor. Dr. Priha memutuskan aku dikasih obat dulu selama satu minggu baru konsul lagi, karena besar benjolannya tidak lebih dari 2 cm. Jadi aku ke apotek dan hari ini mulai minum obatnya. Oya nama obatnya Cefixime dan Nutriflam. Hasil searching mengatakan bahwa keduanya adalah antibiotik untuk meredakan peradangan dan infeksi bakteri dalam spektrum luas. Beruntung keduanya dalam bentuk kapsul jadi tidak pahit saat akan menelan.

Doakan ada perbaikan ya, karena kalau tidak berarti benjolan tersebut harus dibedah. Nanti aku akan cerita lagi bagaimana hasilnya setelah aku minum obat dan konsultasi lagi minggu depan. See you.
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates