Tuesday, July 11, 2017

Foto-foto Banjir di Barabai














Monday, July 10, 2017

Sudut Kamar

Foto-foto ini kupublish sebagai bentuk 'pengabadian' beberapa sudut kamar kecilku.







7 Tips Menarik Pembaca Blog

Bagi seorang bloger, kunjungan para pembaca di blognya adalah anugerah. Semakin banyak pengunjung, artinya isi blognya semakin disukai. Kemungkinan menambah pundi-pundi penghasilan pun semakin bertambah. Persoalannya, tidak semua bloger mempunyai banyak pengunjung.

Lalu bagaimana cara menarik pembaca agar terus mengunjungi blog kita? Berikut beberapa tips yang bisa dicoba untuk meningkatkan page view sebagai pengukur kuantitas pengunjung blog.

1.     Berikan judul artikel yang dapat menarik minat pembaca, tapi tetap sesuai dengan isi postingan.

2.     Tulis artikel yang bermanfaat atau menghibur. Dua jenis tulisan ini adalah jenis tulisan yang paling banyak orang cari di internet.

3.     Menulis dengan metode piramida terbalik. Piramida terbalik adalah metode menulis dengan meletakkan informasi utama berupa unsur 5W (who, what, when, where, dan why) di paragraf pertama. Informasi tambahan kemudian diletakkan pada paragraf-paragraf selanjutnya.

Piramida Terbalik

4.     Berikan sentuhan personal dalam setiap tulisan, karena pembaca blog yang loyal biasanya menyukai penulis blog yang menyelipkan pengalaman pribadi pada setiap postingan yang dipublish.

5.     Masukkan konten lain pada artikel blog seperti gambar, infografis, atau video.

6.     Usahakan satu artikel yang dipublish tidak terlalu panjang. Meski katanya Google suka dengan artikel yang komprehensif, tapi mata para pembaca juga bisa lelah. Kalau pembahasannya memang banyak, bagi menjadi 2 atau hingga 3 bagian.

7.     Bagikan tautan postingan blog di media sosial secara berkala.

Nah, itu tadi 7 tips menarik pembaca blog. Semoga bisa diterapkan dan jumlah pengunjung blog bisa jadi lebih meningkat.



Artikel terkait :

Monday, July 3, 2017

Eksplor Danau Panggang

Untuk memanfaatkan waktu libur lebaran, aku memaksa mengajak suami untuk jalan-jalan ke Danau Panggang, Amuntai. Daerah yang terkenal dengan wilayah danau rawa dan kerbau rawanya tersebut sebenarnya sudah menarik minat travellingku sejak lama. Namun, belum ada kesempatan yang pas untuk menjelajahnya, terutama karena waktu libur yang terbatas dan jarak yang cukup jauh dari tempatku berdomisili.

Kamis, 29 Juni 2017 adalah hari di mana kesempatan itu datang. Aku yang awalnya uring-uringan karena saat libur panjang belum bisa kemana-mana akhirnya jadi bersemangat setelah suami menyetujui whistlist lamaku tersebut. Kebetulan pula, kami sudah kehabisan destinasi wisata di dekat-dekat rumah. Hampir semua tempat sudah kami eksplor, sehingga kami mulai merambah ke destinasi yang agak jauh.

Karena sibuk berdebat tentang ini itu, aku dan suami baru siap berangkat pada pukul 9 pagi. Saat itu, tiba-tiba teman suami menelpon. Menanyakan apakah suami akan bareng bersama dengannya ke resepsi pernikahan keluarga teman mereka. Astaga, suami menepuk jidatnya. Dia baru ingat ada undangan itu. Jadilah kami ke acara itu dulu di Desa Palajau-Munjung, Kec. Batumandi, Kab. Balangan. Cukup jauh dari rumahku yang ada di Desa Labunganak, Kec. BAU, Kab. HST. Tapi aku senang-senang saja, karena artinya kami akan melewati jalan yang berbeda daripada biasanya karena dari sana kami bisa langsung go to Amuntai.

Setelah menghadiri resepsi dan beramah tamah dengan teman-teman suami, kami pun melanjutkan perjalanan. Waktu sudah menunjukkan sekitar jam setengah 11. Kali ini kami lewat jalan utama yaitu lewat jalur Lampihong-Batumandi. Tidak seperti waktu terakhir kami ke sana yaitu lewat jalan tembus dari Desa Teluk Masjid- HST ke Desa Banjang-HSU. Pertimbangannya karena pertama tadi waktu keluar dari Desa Palajau kami sudah melewati belokan menuju Desa Teluk Masjid. Kedua, kami harus mengisi bensin di Desa Riwa yang jika lewat jalan Banjang tidak terlewati, dan ketiga jalannya cukup mengerikan, becek apalagi jika habis hujan lebat seperti kemarin. Maklum, wilayahnya didominasi oleh jalanan setapak di tepi sawah.

Sampai di pusat Kota Amuntai, waktu sudah menunjukkan waktunya sahalat zuhur. Di simpang 4 Pelampitan, suami mulai mengaktifkan GPS. Yeah, thanks to GPS. Di perempatan tersebut kami belok kanan, arah ke Desa Sungai Malang. Setelah itu aku lupa kami melewati desa apa saja, pokoknya kami ikut saja petunjuk arah yang diberikan oleh suara cantik GPS. Hingga kami tiba di sebuah pertigaan yang di peta GPS bertuliskan Danau Panggang, sedangkan papan petunjuk jalan memberikan arah untuk berbelok ke kanan.

Papan Penunjuk Arah ke Danau Panggang

Kami pun berbelok ke kanan sebelum jembatan besar yang melintang di atas sebuah sungai yang cukup besar. Kelak, kami mengatahui bahwa petunjuk jalan yang dimaksud adalah untuk jalan di seberang jembatan. Namun, karena kami melihat jalannya masih satu lajur yaitu menyisir sungai, maka kami terus menyusuri jalan hingga berhenti di sebuah masjid di Desa Banua Hanyar untuk melaksanakan shalat zuhur.

Untuk memastikan arah, suami bertanya sebelum berwudhu kepada seorang pemuda yang berada di masjid. Katanya jalan kami sudah benar, tinggal nyebrang, terus belok kanan lalu lurus. Mau ke Guru Danau kah? tanyanya. Suamiku tersenyum, lalu menggeleng. Ya, aku lupa menceritakan bahwa hal lain yang terkenal dari Danau Panggang adalah seorang ulama atau kyai dari Danau Panggang, beliau lebih dikenal dengan sebutan Guru Danau. Ada yang unik di halaman samping masjid ini, yaitu adanya kuburan yang ditumbuhi padi di sela-sela batu nisannya.

Padi di antara Nisan

Selesai shalat, kami pun melanjutkan perjalanan. Ternyata masih jauh, sekitar 12 km lagi. Perjalanan pun terasa sedikit membosankan karena lurus saja. Oya, sepanjang jalan tersebut, tak kurang dari 5 buah rsespsi perkwinan kami lewati. Kami akhirnya tiba di pertigaan dan belok ke kiri yang terlihat lebih meyakinkan karena jika lurus saja sepertinya adalah kompleks pengajian Guru Danau dan terlihat buntu. Karena GPS sudah kami matikan sejak di masjid tadi, kami pun tebak-tebak buah manggis, hingga melewati sebuah warung makan.

Makan Siang dulu ye kan

Perut kami keroncongan jadi kami mampir untuk mengisinya. Beruntung, menunya cukup enak. Nasi sop plus sate. Di sana, kami ‘wawancara’ singkat dengan pemilik warung. Kebetulan sekali, di dekat warung makan tersebut adalah kantor Kecamatan Danau Panggang. Wah, wah, berarti kami saat itu sedang berada di ‘pusat’ Danau Panggang. Jika terus mengikuti jalan kata si pemilik warung maka akan tembus ke Babirik dan Alabio, berputar. Usut punya usut lokasi kerbau rawa ternyata hanya bisa dicapai dengan menggunakan kelotok atau speedboat yang bisa ditemukan di pelabuhan.

Kompleks Pengajian Guru Danau

Gerbang Dermaga Danau Panggang
Setelah menuntaskan urusan perut, kami pun menuju pelabuhan Danau Panggang yang terletak tepat di belakang masjid kompleks pengajian Guru Danau yang telah kami lewati tadi. Tidak banyak aktivitas yang terjadi di sana. Hanya warung-warung di tepi sungai saja yang ramai. Karena belum bisa memutuskan apakah kami akan naik perahu atau tidak, maka kami memutuskan untuk mengeksplor area sekitar terlebih dahulu. Dari pelabuhan, kami melihat sebuah jembatan kayu, kami pun menyeberang ke sana. Ternyata jembatan tersebut menghubungkan titian kayu ulin yang merupakan tanah para warga yang mempunyai rumah di atas rawa di tepi sungai.

Titian tersebut ternyata berkelok-kelok-kelok dan hanya ada satu lintasan. Kami bisa memandang rawa luas dengan leluasa. Jauh-jauh, hingga ke kaki langit. Sayang, ada begitu banyak tumbuhan air yang menutupi permukaan. Harusnya praktikum mata kuliah Pengelolaan Lingkungan Lahan Basah (PLLB) ke sini ya.

Pemandangan Sungai dari Pelabuhan

Desa Rintisan, Desa di Atas Rawa

Sekitar 3 km mungkin titian kayu tersebut akhirnya membawa kami ke sebuah desa bernama Desa Rintisan. Tepat di dekat kantor desa tersebut terdapat jembatan tinggi yang menghubungkan titian seberang dengan sebelah sini. Ya, semuanya berada di atas danau, tepatnya rawa. Setelah puas menikmati pemandangan dan berfoto kami pun pulang melewati titian ulin yang sama. Saat kami bertanya kepada anak kecil yang lewat di atas jembatan mereka bilang bahwa kami tidak bisa melanjutkan perjalanan lewat jalur selanjutnya karena titian ulin yang menghubungkan dengan daratan di ujung yang lain sudah rusak sehingga akses terputus.







Sayang memang, aku tak bisa melihat langsung peternakan kerbau rawa atau kalau dalam Bahasa Banjar biasanya disebut sebagai hadangan. Tapi rasanya juga tidak terlalu rugi, karena aku telah menjelajah perkampungan di atas rawa dengan sepeda motor. Di sepanjang perjalanan melewati titian ulin tersebut aku harus lebih banyak tersenyum kepada ibu-ibu,bapak-bapak, atau anak-anak yang duduk nongkrong di teras rumah mereka yang jaraknya sangat dekat dari titian ulin yang kami lewati. Jalur tunggal begini, bahaya juga kalau kami kelihatan berbahaya di mata mereka.

Sampai di pelabuhan, kami langsung melanjutkan perjalanan pulang melewati jalan yang sama. Tiba di sebuah pertigaan, kami agak ragu ingin lurus atau belok kanan. Malas buka GPS. Lalu aku menyarankan belok ke kanan, kalau pun salah sepertinya akan tetap keluar di titik yang sama, yaitu simpang 4 Pelampitan. Nah, sebelum simpang 4 tersebut kami merasa ngantuk, jadi kami mampir di sebuah masjid dan tidur. Tak lama kemudian azan ashar berkumandang. Alhamdulillah, kami sempat terlelap. Setelah menunaikan shalat ashar kami pun kembali melanjutkan perjalanan.

Kali ini aku meminta ke suami untuk lewat Desa Sungai Buluh, tidak lewat Desa Lampihong lagi. Ya, aku ingin melihat sisi lain ujung HST bagian selatan. Sungai Buluh ternyata lokasinya jauh sekali dari Kota Kabupaten. Kanan kiri jalan raya pun rawa, bukan sawah. Sama persis dengan daerah Danau Panggang tadi. Akhirnya kami tiba di Kec. Pandawan, lalu Kota Barabai. Sudah terasa di rumah sendiri kalau sudah di sini karena tiap hari bolak-balik kantor lewat kota.

Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menjelajah Danau Panggang dan berputar-putar di 3 Kabupaten, yaitu HST, Balangan, dan HSU. Melelahkan, tapi puas. Iseng, aku memantau jarak yang diperlihatkan spedometer dari awal perjalanan pulang hingga sampai ke rumah. Ternyata di perjalanan pulang tadi kami menempuh jarak  80 km. Kalikan 2 saja untuk perjalanan berangkat, berarti kami menghabiskan waktu di jalan hari ini sejauh 160 km sejak jam 9 pagi hingga jam 7 petang.

How to I Spend My Long Holiday at Lebaran

Libur lebaran tahun ini sempurna sekali. Bagi yang bekerja kantoran, liburannya bisa sampai 10 hari. Amazing banget bagiku yang hanya terbiasa libur weekend dan tanggal merah. Apalagi bagi yang bekerja sebagai guru, libur Ramadhan saja sudah hampir sebulan penuh. Tambahan lagi, libur lebaran hingga tanggal 16 Juni, satu minggu lebih lama daripada pegawai kantoran.

Aku tidak mengagendakan pergi kemana-mana untuk mengisi libur panjang ini berhubung  masih dalam suasana lebaran. Karena biasanya acara keluarga penuh di sana-sini. Jadi, apa saja yang kulakukan selama libur panjang ini? Check this out.

Day 1 : Jumat, 23 Juni 2017
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa merasakan libur di weekday saat Ramadhan. Lega banget rasanya setelah hari kamis sebelumnya menyelesaikan urusan ini itu termasuk harus ke bank untuk menukar uang baru, hadiah buat para sepupu kecil.

Minal Aidin wal Faidzin

Hari ini kerjaanku adalah bersih-bersih rumah setelah tidur pu(l)as setelah subuh. Haha. Papa dan adik juga sudah pulkam sehingga rumah rasanya ramai. Namun, kami belum bisa buka bareng di rumah hari ini karena aku dan suami harus menghadiri acara bukber dengan teman masing-masing. Aku bukber bersama teman sekelas saat SMA dan suami bersama konco sekampungnya di rumah makan yang berbeda.

Day 2 : Sabtu, 24 Juni 2017
Hari ini ada acara buka bersama keluarga besar mama di rumahku. Ya, sebagai penutup Ramadhan tahun ini, bukber diadakan di rumahku setelah sebelumnya diadakan di rumah kakek dan tante. Duh, ramai sekali. Jarang-jarang kesempatan seperti ini bisa datang. Jadi seharian ini aku sibuk membantu mama mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari ke pasar saat subuh, menjemput sepupu kecil, menata ruangan, hingga preparing takjil.

Day 3 : Minggu, 25 Juni 2017
Nena Comel
Hari Raya Idul Fitri 1438 H. Alhamdulillah, bisa bertemu kembali bersama sanak saudara, yang dekat yang jauh beramai-ramai pulang ke kampung halaman. Seperti biasa setelah ke masjid kami ngumpul ke rumah kakek yang jaraknya hanya sekitar 1 km dari rumahku. Aku dan suami di sana hingga jam 11 siang, lalu bertolak ke rumah mertua untuk sungkem. Inilah enaknya punya suami masih satu kecamatan, ga perlu rempong mudik waktu lebaran. Hehe.

Di sana aku makan ketupat, mama mertua memang rajin masak ketupat tiap hari raya. Sepulang dari sana aku dan suami beristirahat hingga sore. Saat sore kembali lagi ke rumah kakek karena ada sepupu-sepupu mama dan keluarga besarnya yang silaturahmi di sana. Hingga petang menjelang, masih ada keluarga yang datang. Kali ini saudara nenek dan anak-anaknya yang datang dari Banjarmaisn, menginap di rumah kakek. Senangnya bisa bertemu mereka, apalagi ada si comel anaknya sepupu mama.

Day 4 : Senin, 26 Juni 2017
Hari ini agendaku adalah pergi ke arisan keluarga dari keluarga besar kakek di salah satu rumah keluarga yang berjarak hanya sekitar 15 menit dari rumah. Acara berlangsung dari pagi hingga makan siang. Alhamdulillah, pulang ke rumah perut sudah kenyang. Pulangnya kami mampir untuk bersilaturahmi ke rumah salah seorang teman suami.

Hari ini adikku mulai bertolak ke tempat perantauan kembali karena besok sudah harus mulai kembali bekerja. Sedih rasanya karena hanya bisa sebentar bertemu dengan satu-satunya saudara kandungku tersebut. Sore hingga malam, aku dan suami bertamu ke rumah sahabat suami yang punya anak kecil berumur sekitar 3 tahun. Duh, lucu sekali. Sementara suami asyik ngobrol dengan sahabatnya, aku bermain-main dengan si kecil Yaya dan mamanya.

Day 5 : Selasa, 27 Juni 2017
Hari ini aku mulai uring-uringan karena tidak ada agenda apapun. Mama dan papa pagi-pagi sudah berangkat ke Samarinda untuk menemui nenek yang tinggal di rumah uwa, kakak papa. Tambah sepi deh.

Aku ngerasa sayang, karena aku punya waktu sampai hari Minggu nanti untuk travelling ke tempat yang jauh. Ini liburan terpanjang yang pernah kumiliki setelah lulus kuliah. Namun, suami memiliki berbagai pertimbangan sehingga memutuskan kami diam di rumah saja selama liburan atau pergi ke tempat-tempat yang dapat dicapai sehari perjalanan. Sedangkan aku sudah kehabisan tempat tujuan wisata di dekat-dekat rumah. Oh, oh bingungnya aku.

Jadi seharian ini (setelah silaturahmi ke rumah mertua sebentar) aku hanya goler-goleran di rumah, sortir foto-foto, dan nongkrongin tv, ikut hobi suami. Alhamdulillah, sedang banyak film yang diputar selama libur lebaran. Beruntunglah sorenya hujan lebat sehingga membuatku merasa beruntung karena sedang tidak berada di luar.

Day 6 : Rabu, 28 Juni 2017
Hari ini pun sama, aku di rumah saja. Cuaca juga tidak bersahabat karena mendung dan hujan lebat. Aku stand by di depan tv setelah mandi, makan, dan beres-beres rumah. Hal yang sama sekali tidak bisa kulakukan saat tidak liburan. Sorenya, aku mengajak suami makan bakso di luar. Pulangnya mampir di rumah tante.

Day 7 : Kamis, 29 Juni 2017
Alhamdulillah, hari ini cerah dan aku memilih waktu yang tepat untuk berjalan-jalan. Hari ini aku berhasil ‘menyeret’ suami untuk berjalan-jalan ke Danau Pangggang, daerah rawa yang terkenal di Kalimantan Selatan. Puas rasanya mandi sinar matahari, foto-foto, dan menjelajah tempat baru. Malamnya kami tertidur cepat karena kecapekan.

Danau Panggang

Day 8 : Jumat, 30 Juni 2017
Pagi ini aku melayat ke rumah tetangga mertua yang orangtuanya meninggal dunia. Setelah itu ke orang selamatan di seberang rumah. Sisanya tidur-tiduran saja. Lagi-lagi sorenya hujan lebat.

Day 9 : Sabtu, 01 Juli 2017
Hari ini hari paling naas bagiku selama liburan. Ketika di perjalanan menuju ke resepsi pengantin seorang teman, motor kami mogok di tengah jalan sehingga kami harus memboyong motornya ke bengkel. Beruntung ada teman suami yang membantu dan meminjamkan motornya selama motor kami diperbaiki. Sampai di resepsi, acara sudah sepi karena keburu siang. Kami jadi tidak sempat bertemu pengantin karena sedang berganti gaun. Pulangnya kami kehujanan, lebat. Sampai basah semua. Mampir di rumah mertua untuk shalat zuhur lalu balik ke rumah untuk tiduran dan bersantai di rumah hingga malam. Hujan turun terus menerus hingga kami tertidur.

Day 10 : Minggu, 02 Juli 2017
The last day. Keluarga besar mamaku hari ini bikin acara masak-masak dan makan bersama. Spesialnya, kami makan siang ala piknik  di tempat wisata Manggasang. Yeah, penutup yang sempurna untuk libur panjang. Aku jadi puas berenang bersama suami dan para sepupu.

Piknik

Pelajaran yang bisa kuambil selama libur panjang kali ini adalah bahwa liburan tidak mesti ke tempat yang jauh. Bahkan bisa dihabiskan di rumah saja dengan cara tidur lagi setelah subuh, nonton tv sepuasnya, atau melakukan hobi indoor. Meskipun awalnya aku jengkel, tapi ternyata oke juga.

Inti dari liburan sebenarnya adalah melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan saat tidak liburan.

Friday, June 30, 2017

DIY Pencil Case















 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates