Tuesday, December 26, 2017

Sibling Rivalry

Aku ini tipe pemikir. Semua-mua dipikirin. Gak heran, banyak yang ngatain aku serius. Dengan berpikir, goalku cuma satu. Gimana solusi yang tepat untuk masalah yang sedang kupikirkan. Iya, aku kayaknya kena hero sindrom yang ingin semua masalah di dunia ini bisa diselesaikan. Karena sindromku ini, aku sering diwanti-wanti suami. Gak bisalah, kata dia, dunia ini tanpa masalah. Kadang, masalah tidak harus diselesaikan agar kita bisa tetap hidup normal.


Kalau sudah brainstorming dengan suami dan hasilnya ternyata aku belum atau tidak mampu untuk membantu mengatasi masalah tersebut, pelarianku ya nulis gini. Kalau kata suami, oke deh aku (dan/atau dia) bisa ikut terjun berkontribusi untuk menyelesaikan masalah tersebut maka aku akan action.

Jadi gini waktu makan malam tadi mama cerita tentang tetangga yang rumahnya yang tidak terlalu dekat dengan kami. Mama diceritakan oleh kerabatnya bahwa di rumah tetangga tersebut terjadi ketidakakuran antara dua saudara. Padahal jarak antar saudara tersebut kurang lebih 10-15 tahun, rasanya terlalu jauh untuk saling cekcok ya. Tapi faktanya ya memang begitu, si adik ini yang katanya 'kurang ramah' terhadap sang kakak. Keduanya sudah sama-sama menikah dan punya anak, tapi masih tinggal di rumah yang sama yaitu di rumah orangtua mereka.

Entah apa penyebab awal ketidakharmonisan di antara keduanya. Yang jelas, solusi paling tepat untuk masalah keduanya menurutku adalah pisah rumah. Kalau perlu, keduanya pindah dari rumah orangtua mereka.

Dalam dunia psikologi, keadaan ini disebut sibling rivalry. Aku heran dengan keadaan yang menyebabkan kakak beradik bisa bersengketa, mungkin karena latar belakang keluargaku yang mengajarkan bahwa perlakukan saudara kita sama dengan kita memperlakukan diri kita sendiri. Tak perlu iri dengan mereka jika mereka lebih kaya/kuat/beruntung. Sebaliknya, ketika saudara kita berada dalam kondisi lebih miskin/lemah/kurang beruntung dibandingkan kita ya tugas kitalah untuk merangkulnya.

Aku juga jadi teringat dengan cerita seorang bloger yang masa lalunya diwarnai dengan sibling rivalry sehingga mengharuskan dia tinggal di rumah neneknya. Mau tak mau sibling rivalry tersebut juga telah mengubah dan menentukan masa depannya yang sedang dijalaninya saat ini.

Menurutku kasus sibling rivalry ini tidak sedikit dialami oleh keluarga di dunia. Ada banyak penyebab, terutama finansial, kondisi fisik, dan buruk sangka. Peran orangtua paling utama dalam menghindari terjadinya pertentangan antar saudara seperti ini sangat penting. Semoga kita bisa selalu berprasangka baik terhadap saudara-saudara kita dan kita pun bisa menanamkan konsep yang baik tentang saudara kepada anak agar sibling rivalry akan semakin kecil terjadi. Aamiin. [R]

Monday, December 25, 2017

Giveaway Bagi Buku

Halo semuanya, jadi ceritanya akhir tahun 2017 aku beres-beres rak buku. Nah, saat itu aku nemu beberapa buku yang kayaknya lebih bermanfaat kalo diberikan ke orang lain. Selain itu rak bukuku juga sudah penuh dan belum ada budget untuk beli rak buku yang baru. Hehe.


Jadi buku yang aku bagikan merupakan buku pribadi, ada yang sudah dibaca, ada yang masih disegel, dan ada juga buku hadiah giveway. Yang jelas, kondisi bukunya masih bagus ya. Cara ikutan giveaway ini gampang, cuma follow dan share aja. Untuk lebih lengkapnya, cek ini ya :

Ketentuan :

1. Peserta berdomisili di Indonesia.

2. Wajib follow akun IG @rindangyuliani dan Twitter @Ryu_keren. Wajib follow keduanya.

3. Tersedia 5 paket buku untuk kalian semua, setiap paket isinya dua buku. Kalau ada yang pengen nambahin hadiahnya dari buku kolprinya bisa banget ya, DM aja ke akun IG atau twitterku di atas.

4.  Satu orang bisa milih 2 paket buku, tetapi satu orang hanya berkesempatan satu kali menang. Penentuan pemenang dengan cara diundi, kayak arisan gitu.

5. Untuk share link : boleh salah satu atau keduanya. Yang share di kedua akun punya 2 poin yang diikutkan dalam undian. Artinya kesempatan menang jadi lebih besar.

Twitter : share link blog post ini, kemudian mention @Ryu_keren, jangan lupa untuk mention 3 orang temanmu, hastagnya #GiveawayBagiBuku.

IG : upload banner giveaway di akun kamu kemudian mention @rindangyuliani dan 3 orang temanmu untuk ikutan, jangan lupa hastag #GiveawayBagiBuku.

*pastikan akunmu dipublik atau tidak dikunci biar aku bisa liat share link kalian.

6. Satu orang, satu akun. Akunnya harus akun pribadi.

7. Meskipun penentuan pemenang berdasarkan undian. Mau dong kalian menuliskan 3 bucket list kalian di tahun 2018. Biar akunya juga semakin semangat karena baca impian kalian di tahun 2018.

Format jawaban di kolom komentar :
Nama :
Domisili :
Akun twitter dan IG kamu :
Share link :
No paket buku yang diinginkan :
3 bucket list kamu di tahun 2018 :

DL 25 Februari 2018
Pengumuman pemenang 6 Maret 2018

Nah, berikut paket bukunya. Silakan dipilih ^~^

Paket 1
1. Dear Friend with Love - Nurilla Iryani
2. Membongkar Proyek Khilafah - Dr. Ainur Rofiq Al-Amin


Paket 2
1. Zukhruf Kasih - Azzura Dayana
2. Bunda Tahan Banting - Indah Lestari SP


Paket 3
1. A Cup of Tarapuccino - Riawani Elyta dan Rika Y. Sari
2. Remaja dan Waktu Luang - A. Hasan Karzoun


Paket 4
1. Lafaz Cinta - Sinta Yudisia
2. Membuat Blog Foto Memakai Flickr dan Photoblog - Laksamana Media


Paket 5
1. Be Mine - Sienta Sasika Novel, Monica Anggen, dan Kezia Evi Wiadji
2. 14 Tips Agar Gaul Makin Asyik - Abul Hasan Ali bin Muhammad

Pengobatan Benjolan di Leher (6)


Tanggal 20 Desember 2017 aku pergi konsultasi ke dokter, sesuai jadwal yang kudapat saat terakhir kali aku periksa. Satu minggu sebelum pengobatan berakhir aku harus cek lagi. Dan tahu apa yang kualami teman-teman? Setelah 2,5 jam nunggu (aku antrian pertama di poli bedah), aku akhirnya bisa masuk ke ruang konsultasi.

Bukan dr. Priha yang sedang duduk di sana, aku sudah bela-belain datang hari kerja Senin-Rabu sesuai praktik beliau. Namun, yang kutemui di sana pada hari itu juga bukan dr. Nanda yang sebisa mungkin kuhindari di hari praktiknya yaitu Kamis-Sabtu. Sebelumnya aku pernah dua kali konsultasi dengan dr. Nanda. Pertama, di suatu hari Kamis yang sebenarnya aku harus datang hari Rabu. Tapi karena kota lagi banjir saat itu, jadi kutunda hingga keesokan harinya. Kesempatan kedua di hari Sabtu, karena mau tak mau aku harus konsultasi di sekitar minggu itu juga sedangkan hari kerjaku padat sekali. Aku tak bisa kabur di hari Senin-Rabu minggu-minggu itu.

Dokter yang duduk di hadapanku kali ini lebih tua dan dari name tag di seragam dokternya kuketahui nama beliau adalah dr. Asnal. Rupanya dari yang aku curi dengar, dr. Priha sedang cuti akhir tahun. Setelah aku bilang aku sudah hampir 1 tahun mengonsumsi OAT, dr. Asnal ngomel. Sungguh, aku berasa jadi tertuduh di sini. Padahal kan ya dr. Priha yang merekomendasikan.

Begini ternyata nggak enaknya konsultasi di rumah sakit, dokternya bisa berbeda di kesempatan yang berbeda. Sedangkan pandangan atau diagnosis setiap dokter pada gejala yang sama juga kadang berbeda. Inilah yang aku alami. Ini pula salah satu alasan aku menghindari dr. Nanda agar bisa konsisten konsultasi dengan dr. Priha.

Kabar baiknya, aku setuju untuk stop minum OAT sesuai saran dari dr. Asnal. Jika hari itu aku konsultasi ke dr. Priha, boleh jadi aku akan mendapat advice yang berbeda. Lanjut pengobatan lagi, misalnya. Hiii. Rabu malam itu sebenarnya jadwal minum obat, tapi aku stop langsung. Alarm minum obat pun sudah kuhapus dari hp ku. Wih, satu tahun penuh lho aku nggak lepas dari OAT. Berat sebenarnya. Apalagi aku disiplin minum sesuai jadwal. Itulah kenapa aku harus lebih banyak minum air putih tahun ini.

Benjolannya gimana? Benjolannya masih ada, tapi ukurannya sudah kecil banget kalau nggak diraba nggak bakal ketahuan kalau masih ada benjolan. Bahkan dr. Asnal jadi sangsi kalau penyebabnya adalah bakteri TB karena ternyata setelah diberi pengobatan benjolannya tidak hilang-hilang. Sampai aku mengeluarkan hasil uji FNAB dari dr. Barliana pun beliau masih ragu. Sama seperti dr. Nanda, beliau menyarankan untuk diambil massanya dengan cara operasi.

Oh NOOO!

CASE CLOSED

Ya segitu aja ternyata ending pengobatan benjolan di leherku. Hingga saat ini aku belum berminat untuk melanjutkannya dengan cara operasj. Alasanku:
1. Benjolannya sudah mengecil
2. Tidak ada keluhan rasa sakit
3. Tidak ada efek terhadap kesehatanku secara umum
4. Aku tidak dioperasi karena alasan kecil, FNAB sudah cukup

Ketiganya tersebut sudah memenuhi kriteria sembuh bagiku. Karena di awal pengobatan, poin no 1 dan 3 terasa mengganggu. Meski mungkin menurut dokter indikator TB kelenjar sudah sembuh adalah benjolannya harus hilang sama sekali. Eh, btw aku penasaran dengan hasil lab uji sputumku di puskesmas. Lupa terus menanyakannya saat aku ngambil obat di sana. Lagi pula kurasa tindakan lanjut dari puskesmas kurang pro untuk kasus TB, mereka terkesan hanya mendistribusikan OAT.

Meski hasil akhir pengobatan ini sedikit mengecewakan. Apalagi bonusnya aku jadi jerawatan (banyak), ini kata dr. Priha sih. Jerawatku adalah efek samping OAT. Aku tetap bersyukur sudah menjalani pengobatan ini. Seenggaknya aku lebih menghargai kesehatan sekecil apapun itu masalahnya. Kudoakan semoga para pembaca yang juga sedang menjalani terapi TB segera sembuh dan tetap semangat. Aamiin. [R]

*Untuk cerita lengkap pengobatanku ini, baca postingan Pengobatan Benjolan di Leher part 1-5 ya.

Tuesday, December 12, 2017

Review Novel : Heart and Salsa

Novel terjemahan ini bercerita tentang seorang cewek remaja bernama Cat yang bosan dengan kehidupannya di Boston. Pada suatu libur musim panas, ia pun mendaftarkan diri pada program Students Across The Seven Seas (SASS) sebagai bentuk pelarian diri yang formal. Pertama, karena di sana ia akan bertemu dengan Sabrina –best friend forevernya saat masih tinggal di Scottsdale, Arizona. Kedua, ia bisa menghindar dari waktu ‘mengakrabkan diri’ dengan Tedd –ayah tiri barunya.


Judul : Heart and Salsa
Penulis : Suzanne Nelson
Penerbit : Wortel Books Publishing
Tahun terbit : 2010

Di Oaxaca, Meksiko tempat Cat belajar selama libur musim panas ternyata ia menemukan banyak pengalaman baru, teman baru, dan bahkan pemikiran baru tentang sesuatu yang sama. Bagian menariknya tentu saja proyek bukan-kencannya bersama Aidan. Cowok asal Manhattan yang juga peserta program SASS membuat Cat benar-benar menyadari sisi feminisnya. Apalagi saat mereka berdua berjalan di atas awan, ya benar-benar di atas awan karena mereka berjalan di atas jembatan di antara kanopi pohon-pohon di hutan awan sebuah perbukitan Sierra del Norte.
 
Selain Aidan, Izzie saudara angkatnya selama tinggal di rumah orangtua asuhnya di Meksiko juga memiliki sistem penyambutan yang menakjubkan. Cat awalnya selalu merasa was-was. Bahkan ia menulis kekhawatirannya di buku harian yang menjadi blurb di bagian belakang sampul novel ini.

sumber foto : google

Selain bertemu orang-orang baru, ia juga bertemu dengan Sabrina. Meski itulah tujuan utama Cat mengikuti program ini namun semuanya tak berjalan lancar. Ada Brian pacar baru Sabrina di antara mereka dan benar saja cowok itu ternyata mampu membuat persahabatan mereka berdua sekarat. Ah, satu semester yang seru apalagi selama itu mereka juga terus berjalan-jalan ke tempat yang penuh edukasi dan di akhir perjalanan mereka disuruh mengumpulkan esai dalam bahasa Spanyol. Keren. Aku jadi bermimpi akulah yang mengikuti program tersebut. 

Dulu saat SMP aku memang pernah bermimpi untuk ikut program pertukaran pelajar seperti ini. Beruntungnya aku bisa membaca ceritanya hampir persis seperti yang kuinginkan.

Judulnya sebenarnya tidak terlalu menggambarkan isinya. Kecuali jika yang dimaksud dengan Heart itu adalah kebimbangan hati seorang Cat tentang keluarganya, tentang prestasi loncat indahnya dan domisilinya di Boston. Sedangkan Salsa itu dengan jelas menggambarkan novel ini berlatar Meksiko. Meski bagian menari Salsa hanyalah ada bagian akhir novel.

Novel 348 halaman ini sangat ringan dinikmati, tidak berat. Amanatnya pun bagus yang tentang mensyukuri kebahagiaan yang dipunya, kecintaan siswa pada akademik, lingkungan, sejarah, dan nasionalisme. Sasaran pembaca jelas untuk para remaja. Tampilan covernya pun ringan dan menggoda.

Secara umum, novel ini cocok untuk dibaca sebagai hiburan. Terutama aku yang cinta banget sama novel terjemahan ini, terlebih setting tempat yang digambarkan novel ini sangat jelas di imajinasiku. Sehingga membuatku merasakan alam tropis Meksiko yang sebenarnya.

Sunday, December 3, 2017

Review November 2017

November bahagia, mungkin itu frase yang bisa kusematkan pada bulan ini. Ada beberapa cerita bahagia yang terjadi. Langsung aja ya simak ceritaku bulan ini.

Keluarga
Di bulan ini, keluargaku bisa ngumpul lengkap. Alhamdulillah. Kami merayakannya dengan jalan-jalan ke Banjarbaru. Berasa de javu ke masa aku kecil dulu, bedanya sekarang adik yang jadi driver dan bapa duduk di samping sebagai penumpang.

Pekerjaan
Pekerjaan lancar jaya meski jumlah sampel semakin membengkak, jadwal sampling juga ada terus. Intinya sih mungkin karena aku ngerasa nyaman dengan lingkungan kerjaku yang ‘sehat’ tanpa drama.


Traveling
Banjarbaru lagi. Gak bosan memangnya aku ke sana? Gak lah, kotanya adem dan bahkan sudah kunobatkan menjadi 'rumah keduaku'. Kali ini aku jalan-jalan dengan keluargaku, tempat yang kudatangi sebenarnya sudah pernah sebelumnya aku datengin. Jadi ya kali ini anggap saja aku sebagai tour guide, haha. Mereka kuajak ke Hutan Pinus, Kampung Pelangi, dan Danau Seran.

Pulang dari sana kami mampir ke makam wali di Sekumpul dan Pelampaian. Akhir bulan, tepatnya tanggal 30 November aku ke Banjarbaru lagi untuk menghadiri rapat di dinas provinsi. Pulang dari sana mampir dulu ke Banjarbaru Book Fair. Senangnya bisa ke sana pas suasana lengang gitu, jadi lebih afdol milih bukunya.



Kesehatan
Aku sehat, alhamdulillah. Padahal cuaca lagi pancaroba gini. Orang-orang juga lagi banyak yang sakit. Tentu saja hal tersebut membuatku semakin waspada untuk menjaga kesehatan.

Kursus menjahit
Akhirnya aku masuk kelas menjahit satu kali di bulan ini. Yeaay, pencapaian. Meski cuma satu kali pertemuan, tapi lumayan bikin aku udah mulai semangat lagi.

Buku
Di bulan November ada dua buku yang selesai aku baca. Pertama, Sketsa novelnya Ari Nur Utami. Lagi nyari sekuelnya nih di perpustakaan kota, sayang belum nemu karena katalognya di sana gak rapi. Buku kedua berjudul Jadi Penulis Fiksi? Gampang Kok! Bukunya asyik meski sudah jadul, nantikan reviewnya ya. 


Oya, di book fair aku beli 4 buku. Nambahin timbunan di rak buku. Hehe. Btw, aku baru beresin rak buku. Sekalian dipindah tempatnya. Rempong, untung ada adik sepupu kecilku yang bantu prosesnya. Senang, rak bukuku jadi lebih bersih dan rapi.



Blogging
Bloggingku masih seret. Banyak yang berhenti di draft, kendalanya sih waktu posting yang harus jam kantor karena memanfaatkan internet cepat. Padahal, akunya juga sibuk di jam kerja. Semoga nanti aku bisa membagi waktu lebih baik lagi.

Laporan bulananku sudah selesai. Saatnya cerita tentang bullet journal yang baru aja kubikin terhitung sejak 1 Desember. Sungguh, ternyata bullet journal berguna banget untuk aku yang kadang keteteran karena hal-hal kecil. Aku mungkin harus cerita di satu postingan khusus. Tapi seenggaknya aku mau laporan dulu bahwa di akhir November ini waktuku banyak kuhabiskan untuk survei bullet journal milik orang lain dari internet. Alhamdulillah, 1 Desember kemarin, bullet journalku sudah bisa digunakan. Yeaaay. Tunggu ceritaku bulan selanjutnya ya.

Thursday, November 9, 2017

Kenapa Calon Pengantin Harus Menggunakan Gift Registry?

Halo calon pengantin, apakah tanggal resepsimu sudah dekat? Sudah satu minggu lagi? Satu bulan lagi? Masih satu tahun lagi? Atau bahkan kamu belum merencanakan tanggal pernikahan sama sekali, karena jodohnya belum ada? Jangan sedih dulu, karena semua jomblo berhak menyandang gelar sebagai calon pengantin. Siapa juga yang enggak pengen nikah, ya kan?

Setelah menulis tentang tips menyiapkan 14 hal sebelum hari pernikahan, aku merasa masih ada yang kurang. Ternyata masih ada satu tips belum kumasukkan di sana. Meskipun terdengar sepele, tapi menurutku ini penting untuk dilakukan oleh calon pengantin yaitu membuat gift registry. Hei, yang benar saja Rindang! Kado mah urusan para tamu. Benar sih, tapi kan kalau kita sudah punya wishlist para calon tamu juga akan terbantu.

Terbantu gimana, bukannya malah jadi nggak surprise? Sering lho aku mengalami kebingungan mau bawa kado apa saat teman mengadakan resepsi pernikahan. Bawa ini, takut dia sudah punya. Bawa itu, takut dia enggak butuh. Bawa ini-itu, takut sama dengan yang lain sehingga mubazir. Nah, kalau calon pengantin menggunakan gift registry kan enak. Aku tinggal beliin dia barang yang sedang dia inginkan dan tentunya berguna.

Namanya kado, dikasih orang dalam bentuk barang apa pun sebenarnya senang terus. Apalagi kalau ternyata kado yang diterima adalah barang impian, senengnya double pasti. Jauh lebih senang daripada dapat barang yang tak disangka-sangka, tapi ternyata tidak banyak berguna buat pribadi. Jadi, pilih surprise atau manfaat barangnya? Kalau aku sih, pilih yang kedua.

Waktu resepsi pernikahanku, kado yang datang bejibun dan beberapa isinya ada yang sama. Bukan nggak ngehargain yang ngasih, tapi kalau banyak barang yang sama juga buat apa. Kalau baju atau kerudung masih oke, tapi kalau barang sejenis kompor atau magic jar? Toh yang kugunakan sehari-hari cuma satu. Sayang kan?

Terus, gimana dong bikin gift registrynya supaya tepat sasaran? Nah, baru-baru ini aku ketemu web yang ciamik banget, yaitu wishlistku.co.id. Di sana para calon pengantin bisa membuat daftar kado impian dan bisa membagikannya lewat media sosial, jangan lupa tandai akun keluarga dan teman-teman yang telah diundang ke acara. Dijamin, kado impianmu bakal tiba di hari bahagia dan menghindarkan para tamu undangan untuk membeli barang yang tidak/belum dibutuhkan.


Sistem di web ini juga sudah diatur sedemikian rupa untuk memanjakan penggunanya. Para calon pengantin cukup membuat akun, membuat daftar barang keinginan dari toko manapun di seluruh Indonesia dengan spesifikasi setepat-tepatnya beserta kisaran harga, lalu para teman dan keluarga dapat melihat dan menandai kado apa yang ingin mereka hadiahkan kepada mempelai.

Tak perlu khawatir kalau barang yang akan dihadiahkan beberapa orang akan sama, karena barang yang akan diberi harus ditandai oleh si pemberi kado. Jangan takut juga jika harga barang incaran terlalu tinggi, toh di Wishlistku ada sistem patungan antar sesama pengguna (group gift) sehingga barang impian tetap dapat terwujud tanpa memberatkan si pemberi kado.

So, kenapa calon pengantin perlu menggunakan gift registry? Seenggaknya ada 5 jawaban yang bisa kurangkum buat menjawab rasa pertanyaan kalian.
1. Tepat sasaran
2. Bisa menulis spesifikasi barang lengkap dan tepat sesuai keinginan dan kebutuhan
3. Membantu keluarga dan teman sehingga tidak bingung memutuskan mau membeli kado apa
4. Menghindari kemubaziran karena kemungkinan mendapatkan barang yang sama jauh lebih kecil daripada tidak pakai gift registry
5. Dapat mengorganisasi barang keinginan pribadi dengan rapi


Keren banget kan gift registry di Wishlistku? Tidak hanya untuk para calon pengantin saja lho ya, buat yang mau ngadain acara ulang tahun, syukuran akikah anak, atau pun sekadar wishlist buat diri sendiri juga bisa. Sebebas-bebasnya, template akunmu juga bisa dicustome sedemikian rupa. Yuk, buat daftar keinginanmu dan dapatkan barang-barang impianmu lewat Wishlistku!

Tuesday, November 7, 2017

Mata Kuliah Pilihan

Lagi kangen masa kuliah, nih. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan. Salah satunya tentang mata kuliah pilihan yang bermuara pada pengerucutan minat di jurusan. Aku, si pecinta alam yang suka eksakta ini, sejak awal masuk jurusan Biologi memang sudah bertekad untuk mendalami ilmu lingkungan. Oleh karena itu, sejak semester III ketika mata kuliah pilihan mulai dimasukkan dalam KRS aku konsisten mengambil mata kuliah yang berhubungan dengan ilmu lingkungan.

Hanya saja, secara teknis pengambilan keputusan mata kuliah pilihan ini tidak bisa dilakukan sendiri. Ada beberapa faktor yang membuatku tidak bisa seenaknya mau ambil ini-itu, salah satunya adalah jumlah minimal mahasiswa yang mengikuti matkul pilihan tersebut. Kalau tidak salah, sebuah matkul di satu semester hanya akan diadakan jika jumlah mahasiswanya minimal 10 orang. Kendala lain, aku tak bisa mengambil semua ilmu lingkungan pada semester tertentu karena jumlah SKS mata kuliah ilmu lingkungan yang boleh diambil pada semester itu (ganjil/genap) kurang dari atau lebih dari SKS maksimal yang bisa kuambil.

source

Aku nggak pernah mau rugi kalau masalah SKS. Haha. Kurang satu saja rasanya sayang. Jadilah, kadang aku mengambil mata kuliah pilihan yang menyerempet bidang lain, yaitu tumbuhan, hewan, dan mikrobiologi (bidang molekuler belum dikembangkan di jurusanku waktu itu, sekarang sudah jadi pilihan minat tersendiri). Dan, masalah yang terakhir adalah bentroknya jadwal kuliah dari beberapa mata kuliah wajib atau sesama matkul pilihan.

Sudah jadi tradisi, di setiap awal semester aku dan teman-teman sibuk mengisi KRS dengan berbagai macam pilihan mata kuliah dengan mempertimbangkan peminatan, jadwal kuliah, dan jumlah SKS maksimal masing-masing. Serunya itu di sini. Pernah, waktu aku dan beberapa teman mencoba ngelobi seorang dosen mengenai jadwal kuliah dua matkul pilihan (ekologi hewan dan ekologi tumbuhan) yang diambil agar kami bisa tetap mengambil keduanya sekaligus dalam semester ini (karena pertimbangan-pertimbangan di atas).

Kamu ini, maunya masuk mana, sih? Milih botani atau zoologi, kok keduanya diambil?” Sang dosen yang memang terkenal galak tersebut geleng-geleng kepala setelah mendengar ‘tuntutan’ kami.

Milih ekologi, Bu. Jawabku, dalam hati.

Endingnya kami bisa memperjuangkan kedua mata kuliah tersebut sehingga aku bisa mengambil kelas keduanya. Mungkin, bukan hanya ibu dosen di atas saja yang heran betapa pilihan mata kuliahku beragam sekali jenisnya. Sebenarnya, mata kuliah di luar ilmu lingkungan hanyalah pelengkap agar SKSku tak hangus. Meski terlihat hobi belajar apa saja, aku sebenarnya menghindari mata kuliah yang menjurus ke mikrobiologi. Sudah materinya mumet, efeknya ke lingkungan juga tidak terlalu besar. Begitu pikirku.

Sebut saja aku kena tulah. Kadang, ketika kita menghindari sesuatu, hal tersebut malah mendatangi kita dengan senang hati. Di akhir semester 6, aku ditawari tema penelitian bertema mikrobiologi lingkungan. Mau menolak, rasanya kesempatan untuk masuk ke tim proyek prestisius seperti itu mungkin tak akan datang dua kali. Jika aku menerima, berarti aku harus belajar banyak lagi karena mata kuliah pilihan bertema mikrobiologi tidak banyak kuambil sebelumnya. Bismillah, akhirnya kuterima tawaran tersebut.

source

Tebak, akhirnya aku dua tahun ‘kuliah’ di kelas, di laboratorium, dan di lapangan untuk menyelesaikan mega proyek ini. Aku tidak sedih dan menyesal (karena ada banyak hal baru yang bisa kupelajari), tapi juga tidak bisa terlalu bangga (karena target kelulusanku mundur jauh dari ekspekstasi).


Begitulah sekilas cerita singkatku tentang serba-serbi mata kuliah pilihan saat aku kuliah dulu. Sedikit banyak hal yang terlihat remeh tersebut mempengaruhi kehidupanku di masa sekarang. Nantilah, aku cerita-cerita lagi tentang hal-hal seru lainnya saat aku kuliah. Bye!

Wednesday, November 1, 2017

Review Oktober 2017

Apa ya kata yang bisa menggambarkan kondisiku selama bulan Oktober tahun ini? Bergejolak. Yup, itu sepertinya adalah kata yang tepat. Ada banyak perubahan dan kejadian yang terjadi di bulan ini. Satu lagi, aku merasa Oktober berlalu sangat cepat. Weekend selalu datang tanpa aku sempat mengharapkannya seperti bulan-bulan sebelumnya. Entah aku terlalu bersemangat dengan pekerjaanku atau dunia memang sudah akan kiamat. (Fyi, salah satu tanda akhir zaman adalah waktu berlalu tanpa terasa). Hingga tanpa kusadari, tanggal menjadi muda kembali dan aku harus menulis ‘laporan’ hidupku ini lagi.

Keluarga
Di bulan ini, tidak banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Meski begitu, aku dan suami menyempatkan waktu paling tidak seminggu sekali mengunjungi mertua dan si kecil Davin. Ada sih, satu kali acara di rumah kakek yaitu haulan memperingati almarhum datu (neneknya mama). Setengah hari Jumat itu aku bisa agak lama kumpul dengan keluarga.

Pekerjaan
Jadwal sampling bulan ini lumayan padat. Ada dua perusahaan besar di HSS dan HST yang meminta pengambilan sampel air dan udara di bulan ini. Permintaan pengujian sampel pun bertambah. Sungguh, tahun ini kayaknya tahun tersibuk di lab. Saat aku menulis ini, sudah ada 170 kode sampel dengan jumlah per kode 1-16 buah, serta sudah ada 12 kode sampel udara dengan kisaran jumlah 1-10 per kode.


Kabar buruk di bulan ini adalah aku nggak bisa ikut SKD untuk CPNS LIPI gara-gara nggak diizinkan mama. Alasan mama, penempatan kerjanya yang di pusat itu jauh dari rumah. Padahal dari awal masa pendaftaran, aku sudah koar-koar ke seluruh keluarga. Saat itu, mereka mengizinkan. Hiks. Aku sedih.

Traveling
Jalan-jalanku bulan ini masih di sekitar Banjarbaru, aku ke sana sekalian berhadir di momen wedding partynya teman seangkatanku. Destinasi yang kupilih kali ini adalah Danau Seran. Tempatnya lagi hits dan pemandangannya juga bagus. Fasilitasnya pun ok. Tunggu ulasanku khusus tentang Danau Seran ya.


Kesehatan
Akhirnya, aku tumbang juga. Panas dalam, flu ringan, dan batuk menyerangku di tengah bulan. Tubuh pun rasanya remuk karena aktivitas fisik yang lebih berat daripada biasanya, sampling, nganalisis sampel seabrek-abrek, dan motoran ke Banjarbaru. Untungnya, nggak sampai bed rest. Aku hanya konsumsi vitamin C, larutan untuk panas dalam, dan obat batuk andalanku plus tidur cepat saat malam.

Kursus menjahit
Masih sama dengan bulan-bulan sebelumnya. Aku bolos kursus sebulan penuh.

Buku
Bulan ini ada satu buku fisik yang kutamatkan yaitu TNT#7. Review menyusul ya. Dari wattpad, aku nemu satu novel yang bagus di bulan ini yaitu She's The Boss!. Ceritanya keren, authornya kece. Aku juga tertarik untuk mereview novel ini. Oya, aku juga beli buku online di bulan ini. Paket novelnya salah satu penulis favoritku, Riawani Elyta.


Blogging
Bloggingku mulai teratur, setidaknya di akhir bulan Oktober. Semoga bisa terus nulis dan mulai ikut lomba lagi. Aamiin.

Yup, segitu aja ceritaku di bulan ini. Terima kasih yang sudah mau baca ya. Gak ada yang baca pun sebenarnya aku nggak ambil pusing, karena review ini kuniatkan sebagai diary bulanan hidupku yang sok sibuk ini. Khusus untuk diri sendiri dan pencapaian pribadi.

Monday, October 16, 2017

[Review Novel] Heart of Thunder

Hai, semuanya ...

Lama gak posting. Lama gak nulis review buku. Lama gak baca. Lama gak nyemplung di dunia baca tulis lagi bikin aku kangen. Jadi, sekarang aku mau posting review novel lama yang kupinjam dari perpustakaan kotaku. 

Kebanyakan kerjaan di dunia nyata (alasan) membuatku hampir lupa bagaimana asyiknya membaca sambil goler-goleran seperti dulu. Kebanyakan pengantar, nih. Yuk, langsung review novelnya.

Judul novel yang kubaca kali ini adalah Heart of Thunder. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, ini novel terbitan lama dan setting waktu yang digunakan penulis pun jauh kembali ke masa lalu. Aku berasa terbawa ke abad 18 di mana saat itu, di Benua Amerika sedang terjadi demam emas. Saat di mana alat transportasi utama adalah kuda dan kereta kuda, sehingga untuk perjalanan jauh memerlukan waktu berbulan-bulan. Kondisi padang pasir di Amerika yang menjadi setting tempat di novel ini pun membayang di khayalanku, betapa kosong tanpa gedung bertingkat seperti sekarang.

Novel ini bercerita tentang dua orang yang sama-sama keras kepala dan gengsi mengakui bahwa mereka saling jatuh cinta. Konflik utama dalam novel ini adalah usaha Hank Chevez untuk mendapatkan kembali rumah dan tanah milik keluarganya yang dirampas oleh pemerintah Meksiko. Namun, ternyata tanah tersebut sudah dibeli oleh ayah Samantha Kingsley -tokoh perempuan utama dalam novel ini. Dari sanalah interaksi antara Hank dan Samantha bermula. Kebencian di antara keduanya membuat rumit perasaan cinta yang mulai tumbuh.

Meski terlihat ringan, tapi menurutku tema yang diangkat dalam novel ini cukup sadis -yaitu usaha untuk mengambil/mempertahankan hak dengan berbagai macam cara. Entah karena memang kultur zaman dahulu yang memang penuh kekerasaan atau penulis memang sengaja mengangkatnya agar menjadi alasan yang memperkuat setiap langkah yang diambil tokoh-tokoh utama.

Plot cerita dalam novel ini apik dan natural. Tak heran, karena penulisnya adalah Johanna Lindsey, The #1 New York Times Bestselling Author. Menurutku, ia piawai sekali menulis novel bergenre fiction historical romance ini. Terdapat dua sesi utama dalam novel ini, yaitu perkenalan dan konflik tokoh di Meksiko dan proses penyelesaian konflik yang dimulai dengan pelarian diri Samantha ke Inggris. Kedua sesi utama tersebut terjalin dengan rapi sehingga membentuk plot yang bagusnya juara.

Karakterisasi kedua tokoh utama sangat kuat sehingga mengendalikan jalan cerita di keseluruhan cerita. Meskipun sama-sama keras kepala, tapi emosi yang berasal dari hati juga kadang mempengaruhi keputusan pasangan ini. Penggambaran karakter yang mampu mengungkapkan apa yang ada di kepala masing-masing tokoh membuat cerita dalam novel ini terasa nyata.

Judul: Heart of Thunder (Cinta yang Tersisa)
Penulis: Johanna Lindsey
Penerbit: Dastan Book
Tahun terbit:2011

Di balik 'kesempurnaan' novel ini, ada beberapa kesalahan ketik nama yang kutemukan pada versi terjemahan ini. Misalnya pada halaman 308. Tertulis, "Aku memaksa. Dan itu alasan yang cukup bukan?" Samantha menyeringai. Seharusnya yang menyeringai adalah Hank pada konteks pembicaraan tersebut.

Ada beberapa hal yang menjadi favoritku dalam novel ini. Salah satunya adalah ungkapan-ungkapan Bahasa Spanyol, yang terlihat cantik dibaca. Seperti kata Gatita,  Dios Mio, Querida, dan Amigo.

Aku juga suka scene di halaman 377 saat Hank tidak percaya pada penjelasan Lorenzo betapa Samantha mengkhawatirkannya, bahwa Hank sangat berarti bagi Samantha. Hank hanya bisa berkata, "Sialan!" Bukan karena ia merasa Samantha mengasihaninya tapi karena ia akhirnya menyadari bahwa binar cinta yang sama juga tumbuh di hatinya.

Bagian lain yang juga menjadi favoritku adalah ketika akhirnya Samantha mengkonfrontasi Hank di halaman 465 dan keduanya berbicara panjang lebar mengenai perasaan gila merek. Hingga mereka akhirnya memutuskan untuk hidup bersama.

Ya, novel dengan tebal 476 halaman ini memiliki pesan jika cinta mampu mengalahkan ego, keras kepala, dan gengsi sepasang kekasih. Pikiran negatif juga perlu disingkirkan sebelum mempengaruhi keputusan atau menjadi sesal karena ternyata kenyataannya berbeda. Dan yang terpenting, kalau cinta ya bilang saja. ^^

Monday, October 9, 2017

Pengobatan Benjolan di Leher (5)

Sabtu, tanggal 9 September aku ke puskesmas untuk minta surat rujukan ke rumah sakit untuk kontrol sebelum pengobatan bulan ke-9 berakhir. Terlalu cepat sih sebenarnya, karena di surat rujukan balik sebelumnya tertulis aku hanya harus periksa ke RS lagi dua minggu sebelum pengobatan berakhir yang jatuh pada akhir September. Tujuanku cepat begitu supaya gak terlalu keteteran dengan jadwal-jadwalku. Singkat cerita, dokter di puskes ngasih aku surat rujukan ke RS.

Aku pun langsung menuju rumah sakit. Sekitar jam 10an, antri. Sekitar jam 12.30 aku dipanggil. Kali ini kena giliran dr. Nanda. Sebenarnya aku pengen konsultasi dengan dokter Priha, tapi tahu kesempatanku bisa ke RS cuma Sabtu aja ya terpaksa aku okelah sama dr. Nanda.

Sudah bisa ditebak kalau dengan dr. Nanda aku bisa tanya macam-macam dan dia pun bisa menjelaskan macam-macam. Sama seperti sebelumnya, dia lebih recomended benjolanku di biopsi daripada di FNAB, karena benjolannya masih ada sedikit meskipun kalau gak diraba benjolan tersebut sudah tidak kelihatan. Tapi aku memutuskan untuk di FNAB lagi, kalau yang ini gak berhasil bolehlah kubilang dibiopsi.



Rabu, tanggal 20 September barulah aku bisa untuk FNAB karena kesibukan kerjaku dan beberapa hal lainnya. Aku dan suami pun berkendara selama satu jam dari rumah ke klinik tempat FNAB.

FNAB kali ini agak susah karena benjolannya sudah semakin kecil tapi akhirnya ditemukan juga jaringannya. Dari hasil analisis sementara memang masih ditemukan bakteri TB. Fiuhh, aku harus sabar.

Jumat, 22 September, sms pemberitahuan kalau hasil laboratorium FNABku sudah selesai. Tapi aku baru bisa mengambilnya tanggal 3 hari kemudian. Senin, tanggal 2 Oktober aku konsultasi lagi ke rumah sakit. Kali ini jadwalnya dr. Priha. Yes! Lama ga ketemu beliau, sekali aku duduk di depan beliau beliau langsung bilang. “ Wah, jerawatan, ya? Pasti karena efek OAT. Nanti kalau minum obatnya sudah berhenti jerawatnya akan hilang sendiri, kok.”

Aku senyum-senyum saja menanggapi komentar beliau dan berdialog dalam hati. Oh, pantes aku belum pernah berjerawat sehebat seperti sekarang ini sebelumnya. Ternyata karena efek samping obat yang kukonsumsi ya. Astaga, aku malah menyalahkan masker air mawar yang pernah kupakai menjadi penyebab jerawat bruntusanku ini. Aku ingat sekali, dulu sekitar bulan Maret jerawat ini mulai muncul di wajahku.

Inti dari konsultasiku dengan dr. Priha adalah aku disuruh lanjut pengobatan lagi. Yeah, berarti aku setahun menjalani pengobatan ini. Hokeh, 2017 berarti bagiku adalah tahun OAT. Semoga aku bisa menjalaninya hingga akhir tahun nanti dan yang terpenting bisa sembuh. Biar bisa lanjut proyek yang lainnya.


Rabu, aku pun kembali mendatangi puskesmas. Para pegawai medis di puskesmas salut dengan program pengobatan yang kujalani. Asal jangan bosan lihat wajahku aja kubilang karena sering mampir ke sini. Waktu itu aku dikasih 3 kaplet OAT biar sampai 3 bulan ga perlu ambil lagi. Oke deh, selamat berjuang bagiku melawan TB hingga akhir tahun nanti.

Monday, October 2, 2017

Review September 2017

Bulan September berlalu dengan sangat cepat di kehidupanku. Iya, aku sesibuk itu sekarang. Jika kalian memperhatikan jumlah blogpost aku satu bulan ini, maka kalian akan mengerti betapa tidak teraturnya hidupku akhir-akhir ini. Hiks. Kalau tidak bisa dibilang mengenaskan ya, karena ini seperti ‘bukan Rindang banget’.

Keluarga

Nenek tercinta
Hari Raya Idul Adha jatuh tepat pada tanggal 1 September. Namun, bapa dan adik tidak bisa pulkam dengan alasan pekerjaan. Adikku memang sedang tidak bisa cuti. Bapa menunda kepulangannya satu minggu kemudian. Qadarullah,  nenekku dari pihak bapa meninggal pada tanggal 9 September 2017 saat bapa tiba di rumah. Aku berduka tanpa bisa mengekspresikannya, karena almarhumah tidak berada di dekatku. Nenek sedang ada di Samarinda, di rumah uwa –kakaknya bapa.

Setelah berdiskusi jarak jauh, bapa dan kedua saudaranya sepakat untuk memakamkan nenek di Samarinda. Hal tersebut membuat mama dan bapa harus ke Samarinda, hari itu juga. Pukul 5 sore uwa mengabari via telepon, pukul 7 petang mama dan bapa sudah stand by menunggu bus tujuan Samarinda.  Samarinda berjarak 12 jam dari tempat tinggal kami. Setelah mengalami perjalanan panjang yang tertunda karena permasalahan teknis bus, mama dan bapa baru tiba di Samarinda pukul 1 siang. Orang-orang baru saja pulang dari prosesi pemakaman nenek. Ya, bapa tidak bertemu dengan orangtua satu-satunya pada saat terakhir. Fyi, bapa ditinggal meninggal kakek pada saat masih berada di dalam kandungan. Aku tidak tahu persis bagaimana perasaan bapa, meski katanya beliau sudah mengikhlaskan kepergian nenek. Oya, aku tidak tahu usia nenek dengan pasti tapi kalau boleh diperkirakan sekitar 100 tahun kurang sedikit.

Mama di depan makam nenek

Aku dan adik juga tidak bisa ikut ke Samarinda karena alasan pekerjaan di hari Senin. Lagipula, hari Minggu tanggal 10 itu ada acara arisan keluarga sekaligus acara aqiqah si kecil Davin di rumah kakek dari pihak mama. Aku harus sedih dan gembira dalam waktu yang bersamaan.

Di akhir bulan tanggal 30 September, ada resepsi pernikahan sahabatku waktu SMA. Untungnya diadakan hari Sabtu, sehingga aku bisa benar-benar mengosongkan waktu sehari itu untuk ke sana. Sekalian reuni dengan para sahabat yang lain, mumpung lagi ngumpul dengan para bridesmaid ala-ala.  

Vhaancoex Girls

Pekerjaan
Satu bulan terakhir, banyak jadwal sampling. Untung tubuhku kuat. Tetek bengek pendaftaran CPNS juga bikin kalang kabut. Tanggal 15 aku ikut tes CPNS periode pertama oleh Kemenkumham di Banjarbaru. Meski gak sampai tahap SKB, aku lega karena kemampuanku masih ‘lumayan’. Peringkat 605 dari 17.000 lebih peserta. No problem. Seenggaknya, nilaiku memenuhi passing grade dan paling unggul di antara yang lain saat sesi ujianku. Meski kalau diperingkat se-Indonesia ya aku nggak masuk 39 besar. Di periode kedua nanti aku akan mencoba lagi.

Pengumuman seleksi


Kesehatan
Alhamdulillah, aku sehat terus. Kabar buruknya, pengobatan TB-ku harus dilanjutkan lagi karena meskipun benjolannya sudah hampir hilang tapi bakterinya masih ada berdasarkan hasil FNAB. Nah, ngurus pengobatan ini termasuk yang bikin aku tambah sibuk juga, karena aku harus bolak-balik ke puskes, RS, dan klinik yang jauhnya satu jam perjalanan lebih dari rumah. Tetap semangat sembuh, Rindang!

Kursus menjahit
Bulan ini karena kesibukanku, aku full gak masuk kursus yang hanya 8 kali pertemuan dalam sebulan itu. Hiks.

Buku
Karena bulan ini aku punya kesempatan ke Gramedia, jadi aku beli buku dan sudah membaca salah satunya yaitu ‘Mimpi Punya Bisnis Sukses di Usia Muda’. Isinya keren banget, buat aku ingin beli dan baca buku kembarannya dari penulis yang sama –Stella Olivia, judulnya Mimpi Punya Karier Cemerlang di Usia Muda. Kemarin itu aku cuma beli satu karena jelas, aku lebih tertarik dengan dunia bisnis daripada jadi ‘karyawan cemerlang’. Ternyata isinya jauh lebih general daripada sekadar bicara dunia bisnis. Nanti aku review buku-buku kece ini ya.

Gramedia on action

Traveling
Akhirnya bisa jalan-jalan cantik lagi bulan ini. Destinasi tujuanku kali ini adalah Kampung Pelangi Banjarbaru. Yihaa. Kawasan yang sebelumnya hanyalah bantaran Sungai Kemuning ini sukses membuatku sibuk berfoto ria dan jadi model sehari. Haha.

Selamat datang di Sungai Kemuning

Blogging
Bloggingku masih tidak teratur. Kacau. Ikut lomba pun tidak lagi. Aku bertekad sejak awal Oktober ini mulai aktif lagi. Aamiin.

Nah, segitulah ceritaku di bulan September. Singkat, ya? Padahal saat menjalaninya aku gelabakan banget nget nget. Sampai ketemu di ceritaku bulan depan, ya.
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates