Monday, July 3, 2017

Eksplor Danau Panggang

Untuk memanfaatkan waktu libur lebaran, aku memaksa mengajak suami untuk jalan-jalan ke Danau Panggang, Amuntai. Daerah yang terkenal dengan wilayah danau rawa dan kerbau rawanya tersebut sebenarnya sudah menarik minat travellingku sejak lama. Namun, belum ada kesempatan yang pas untuk menjelajahnya, terutama karena waktu libur yang terbatas dan jarak yang cukup jauh dari tempatku berdomisili.

Kamis, 29 Juni 2017 adalah hari di mana kesempatan itu datang. Aku yang awalnya uring-uringan karena saat libur panjang belum bisa kemana-mana akhirnya jadi bersemangat setelah suami menyetujui whistlist lamaku tersebut. Kebetulan pula, kami sudah kehabisan destinasi wisata di dekat-dekat rumah. Hampir semua tempat sudah kami eksplor, sehingga kami mulai merambah ke destinasi yang agak jauh.

Karena sibuk berdebat tentang ini itu, aku dan suami baru siap berangkat pada pukul 9 pagi. Saat itu, tiba-tiba teman suami menelpon. Menanyakan apakah suami akan bareng bersama dengannya ke resepsi pernikahan keluarga teman mereka. Astaga, suami menepuk jidatnya. Dia baru ingat ada undangan itu. Jadilah kami ke acara itu dulu di Desa Palajau-Munjung, Kec. Batumandi, Kab. Balangan. Cukup jauh dari rumahku yang ada di Desa Labunganak, Kec. BAU, Kab. HST. Tapi aku senang-senang saja, karena artinya kami akan melewati jalan yang berbeda daripada biasanya karena dari sana kami bisa langsung go to Amuntai.

Setelah menghadiri resepsi dan beramah tamah dengan teman-teman suami, kami pun melanjutkan perjalanan. Waktu sudah menunjukkan sekitar jam setengah 11. Kali ini kami lewat jalan utama yaitu lewat jalur Lampihong-Batumandi. Tidak seperti waktu terakhir kami ke sana yaitu lewat jalan tembus dari Desa Teluk Masjid- HST ke Desa Banjang-HSU. Pertimbangannya karena pertama tadi waktu keluar dari Desa Palajau kami sudah melewati belokan menuju Desa Teluk Masjid. Kedua, kami harus mengisi bensin di Desa Riwa yang jika lewat jalan Banjang tidak terlewati, dan ketiga jalannya cukup mengerikan, becek apalagi jika habis hujan lebat seperti kemarin. Maklum, wilayahnya didominasi oleh jalanan setapak di tepi sawah.

Sampai di pusat Kota Amuntai, waktu sudah menunjukkan waktunya sahalat zuhur. Di simpang 4 Pelampitan, suami mulai mengaktifkan GPS. Yeah, thanks to GPS. Di perempatan tersebut kami belok kanan, arah ke Desa Sungai Malang. Setelah itu aku lupa kami melewati desa apa saja, pokoknya kami ikut saja petunjuk arah yang diberikan oleh suara cantik GPS. Hingga kami tiba di sebuah pertigaan yang di peta GPS bertuliskan Danau Panggang, sedangkan papan petunjuk jalan memberikan arah untuk berbelok ke kanan.

Papan Penunjuk Arah ke Danau Panggang

Kami pun berbelok ke kanan sebelum jembatan besar yang melintang di atas sebuah sungai yang cukup besar. Kelak, kami mengatahui bahwa petunjuk jalan yang dimaksud adalah untuk jalan di seberang jembatan. Namun, karena kami melihat jalannya masih satu lajur yaitu menyisir sungai, maka kami terus menyusuri jalan hingga berhenti di sebuah masjid di Desa Banua Hanyar untuk melaksanakan shalat zuhur.

Untuk memastikan arah, suami bertanya sebelum berwudhu kepada seorang pemuda yang berada di masjid. Katanya jalan kami sudah benar, tinggal nyebrang, terus belok kanan lalu lurus. Mau ke Guru Danau kah? tanyanya. Suamiku tersenyum, lalu menggeleng. Ya, aku lupa menceritakan bahwa hal lain yang terkenal dari Danau Panggang adalah seorang ulama atau kyai dari Danau Panggang, beliau lebih dikenal dengan sebutan Guru Danau. Ada yang unik di halaman samping masjid ini, yaitu adanya kuburan yang ditumbuhi padi di sela-sela batu nisannya.

Padi di antara Nisan

Selesai shalat, kami pun melanjutkan perjalanan. Ternyata masih jauh, sekitar 12 km lagi. Perjalanan pun terasa sedikit membosankan karena lurus saja. Oya, sepanjang jalan tersebut, tak kurang dari 5 buah rsespsi perkwinan kami lewati. Kami akhirnya tiba di pertigaan dan belok ke kiri yang terlihat lebih meyakinkan karena jika lurus saja sepertinya adalah kompleks pengajian Guru Danau dan terlihat buntu. Karena GPS sudah kami matikan sejak di masjid tadi, kami pun tebak-tebak buah manggis, hingga melewati sebuah warung makan.

Makan Siang dulu ye kan

Perut kami keroncongan jadi kami mampir untuk mengisinya. Beruntung, menunya cukup enak. Nasi sop plus sate. Di sana, kami ‘wawancara’ singkat dengan pemilik warung. Kebetulan sekali, di dekat warung makan tersebut adalah kantor Kecamatan Danau Panggang. Wah, wah, berarti kami saat itu sedang berada di ‘pusat’ Danau Panggang. Jika terus mengikuti jalan kata si pemilik warung maka akan tembus ke Babirik dan Alabio, berputar. Usut punya usut lokasi kerbau rawa ternyata hanya bisa dicapai dengan menggunakan kelotok atau speedboat yang bisa ditemukan di pelabuhan.

Kompleks Pengajian Guru Danau

Gerbang Dermaga Danau Panggang
Setelah menuntaskan urusan perut, kami pun menuju pelabuhan Danau Panggang yang terletak tepat di belakang masjid kompleks pengajian Guru Danau yang telah kami lewati tadi. Tidak banyak aktivitas yang terjadi di sana. Hanya warung-warung di tepi sungai saja yang ramai. Karena belum bisa memutuskan apakah kami akan naik perahu atau tidak, maka kami memutuskan untuk mengeksplor area sekitar terlebih dahulu. Dari pelabuhan, kami melihat sebuah jembatan kayu, kami pun menyeberang ke sana. Ternyata jembatan tersebut menghubungkan titian kayu ulin yang merupakan tanah para warga yang mempunyai rumah di atas rawa di tepi sungai.

Titian tersebut ternyata berkelok-kelok-kelok dan hanya ada satu lintasan. Kami bisa memandang rawa luas dengan leluasa. Jauh-jauh, hingga ke kaki langit. Sayang, ada begitu banyak tumbuhan air yang menutupi permukaan. Harusnya praktikum mata kuliah Pengelolaan Lingkungan Lahan Basah (PLLB) ke sini ya.

Pemandangan Sungai dari Pelabuhan

Desa Rintisan, Desa di Atas Rawa

Sekitar 3 km mungkin titian kayu tersebut akhirnya membawa kami ke sebuah desa bernama Desa Rintisan. Tepat di dekat kantor desa tersebut terdapat jembatan tinggi yang menghubungkan titian seberang dengan sebelah sini. Ya, semuanya berada di atas danau, tepatnya rawa. Setelah puas menikmati pemandangan dan berfoto kami pun pulang melewati titian ulin yang sama. Saat kami bertanya kepada anak kecil yang lewat di atas jembatan mereka bilang bahwa kami tidak bisa melanjutkan perjalanan lewat jalur selanjutnya karena titian ulin yang menghubungkan dengan daratan di ujung yang lain sudah rusak sehingga akses terputus.







Sayang memang, aku tak bisa melihat langsung peternakan kerbau rawa atau kalau dalam Bahasa Banjar biasanya disebut sebagai hadangan. Tapi rasanya juga tidak terlalu rugi, karena aku telah menjelajah perkampungan di atas rawa dengan sepeda motor. Di sepanjang perjalanan melewati titian ulin tersebut aku harus lebih banyak tersenyum kepada ibu-ibu,bapak-bapak, atau anak-anak yang duduk nongkrong di teras rumah mereka yang jaraknya sangat dekat dari titian ulin yang kami lewati. Jalur tunggal begini, bahaya juga kalau kami kelihatan berbahaya di mata mereka.

Sampai di pelabuhan, kami langsung melanjutkan perjalanan pulang melewati jalan yang sama. Tiba di sebuah pertigaan, kami agak ragu ingin lurus atau belok kanan. Malas buka GPS. Lalu aku menyarankan belok ke kanan, kalau pun salah sepertinya akan tetap keluar di titik yang sama, yaitu simpang 4 Pelampitan. Nah, sebelum simpang 4 tersebut kami merasa ngantuk, jadi kami mampir di sebuah masjid dan tidur. Tak lama kemudian azan ashar berkumandang. Alhamdulillah, kami sempat terlelap. Setelah menunaikan shalat ashar kami pun kembali melanjutkan perjalanan.

Kali ini aku meminta ke suami untuk lewat Desa Sungai Buluh, tidak lewat Desa Lampihong lagi. Ya, aku ingin melihat sisi lain ujung HST bagian selatan. Sungai Buluh ternyata lokasinya jauh sekali dari Kota Kabupaten. Kanan kiri jalan raya pun rawa, bukan sawah. Sama persis dengan daerah Danau Panggang tadi. Akhirnya kami tiba di Kec. Pandawan, lalu Kota Barabai. Sudah terasa di rumah sendiri kalau sudah di sini karena tiap hari bolak-balik kantor lewat kota.

Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menjelajah Danau Panggang dan berputar-putar di 3 Kabupaten, yaitu HST, Balangan, dan HSU. Melelahkan, tapi puas. Iseng, aku memantau jarak yang diperlihatkan spedometer dari awal perjalanan pulang hingga sampai ke rumah. Ternyata di perjalanan pulang tadi kami menempuh jarak  80 km. Kalikan 2 saja untuk perjalanan berangkat, berarti kami menghabiskan waktu di jalan hari ini sejauh 160 km sejak jam 9 pagi hingga jam 7 petang.

3 comments:

Zahrah Nida said...

Wah, kesannya damai sentosa ya mba hehe.
Suka lihatin eceng gondoknya, sama jembatannya juga.
Di tempat saya dah jarang ada jembatan gantung begitu.

Charis Fuadi said...

pingin rasanya main2 di kampung terapung gt melewati jembatan

Tira Soekardi said...

wah danau dg air tenang itu menghanyutkan ya

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates